PERSPEKTIF AL-QUR’AN TENTANG KESABARAN DALAM SURAT YUSUF

PENDAHULUAN

Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Di dalamnya sarat dengan informasi yang selalu hangat dan aktual dari zaman ke zaman. Walaupun segala usaha telah dikerahkan untuk menggali dan menyelami isi kandungan al-Qur’an, hal itu tidak pernah akan ada habis-habisnya. Allah Swt. berfirman:

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS. Al-Kahfi: 109) (Depag RI, 2005: 459).

Diantara kandungan Al-Qur’an adalah berisi tentang berbagai macam kisah, yaitu kisah-kisah para nabi dan kisah-kisah yang berhubungan dengan yang terjadi pada masa Rasulullah Saw. Kisah-kisah yang termaktub dalam Al-Qur’an disamping punya nilai historisitas yang valid, juga tertata dengan nuansa sastra yang tinggi. Dan yang terlebih penting lagi adalah ibrah yang terdapat  dalam kisah tersebut punya implikasi yang sangat penting bagi manusia khususnya orang-orang yang bertakwa dalam menjalani hidup ini, karena kandungannya yang sarat dengan petunjuk (Rahmat Sholihin dalam http//shalihin.blogspot.com).

Sebaik-baik kisah yang ditampilkan dalam Al-Qur’an, adalah dalam QS. Yusuf, yaitu kisah nabi Yusuf as. dan nabi Ya’qub as. ayahnya. Hal ini dijelaskan Allah swt. dalam fimannya:

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (QS. Yusuf: 3) (Depag RI, 2005: 348).

Menurut Ibnu Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin yang dikutipnya dari Ibnu Taimiyah, berkata “sesungguhnya musibah nabi Yusuf as. menjadi agung karena beberapa masalah yang meninggikan beliau serta pahalanya di sisi Allah swt. (Al-Qorni, 1993: 57).

Surat Yusuf ini merupakan kisah dari seorang nabi yang tumbuh sejak kecil tidak di lingkungan kaumnya sendiri, sebelum diangkat sebagai seorang nabi. Sehingga, ia pun mencapai umur dewasa dan tua, kemudian diangkat menjadi nabi dan rasul. Ia berdakwah mengajak manusia kepada agama Allah sampai akhirnya dia memegang tampuk pemerintahan di suatu Negara besar (Al-Maraghi, 1993: 218).

Menurut Quraish Shihab, QS. Yusuf dikatakan sebagai ahsan al-qashash (sebaik-baik kisah), karena disamping kandungannya yang demikian kaya dengan ibrah, tuntunan dan hikmah, kisah ini kaya pula dengan gambaran yang sungguh hidup melukiskan gejolak hati pemuda, rayuan wanita, kesabaran, kepedihan dan kasih sayang ayah. Kisah ini juga mengandung imajinasi, bahkan memberi aneka informasi tersurat dan tersirat tentang sejarah masa silam (Shihab, 2005: Vol. 2: 389).

Selain landasan dari Al-Qur’an, dalam UUD RI Tahun 1945 juga menjelaskan tentang kaitan akhlaqul karimah dengan pendidikan. Dalam pembukaan UUD RI Tahun 1945 mengamanatkan Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Dalam UUD RI Tahun 1945 mengamanatkan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-undang (Depag RI, 2006: 3).

Selanjutnya, dalam UUD RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depag RI, 2006: 8).

Senada dengan tujuan pendidikan nasional di atas, tujuan pendidikan Islam sendiri adalah membentuk peserta didik agar berkepribadian muslim atau menjadi insan kamil. Salah satu indikator dari Insan kamil tersebut yaitu sabar, karena sabar merupakan bagian dari akhlaqul karimah.

Sabar adalah salah satu dasar dan fondasi akhlak dalam agama Islam yang lurus ini. Fondasi itu adalah kesabaran yang mempengaruhi seluruh sendi kehidupan manusia.

Pertumbuhan janin yang ada di perut ibu mengalami fase-fase. Sesungguhnya janin itu tidak serta-merta tumbuh menjadi besar. Hal ini sama seperti tumbuhan yang tumbuh secara bertahap. Begitu pula matahari yang terbit dan terbenam sedikit demi sedikit. Allah Swt. telah menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari. Sesungguhnya Allah Swt. mampu menciptakan langit dan bumi itu dalam waktu satu hari atau hanya dalam sekedip  mata. Hal itu menandakan bahwa segala sesuatu di dalam semesta ini terjadi secara bertahap. Kesabaran bukan hanya sekedar akhlak saja, tetapi ia adalah kunci alam semesta (Khalid, 2006: 3-4). Sesungguhnya kesempurnaan agama dan dunia ini erat hubungannya dengan kesabaran. Kemerosotan keduanya juga erat hubungannya dengan kesabaran.

Selama ini, pemahaman kebanyakan orang tentang hakikat sabar masih dianggap  sempit, karena mereka mengganggap bahwa sabar itu hanya sekedar pasrah dan diam ketika mendapat suatu musibah. Selain itu, makna sabar hanya diartikan sebagai sikap yang tahan terhadap musibah yang menimpa dirinya, padahal makna sabar itu sangat luas bukan hanya ketika menghadapi musibah atau cobaan saja dibutuhkan suatu kesabaran, akan tetapi untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Swt. dan menjauhi larangannya juga membutuhkan kesabaran.

Pusat dari sikap sabar adalah hati, sebab hati merupakan pengendali sentral dari seluruh aktivitas manusia, bahkan apakah manusia itu bisa baik atau juga bisa jahat, hati manusialah jawabannya (Yasin, 2009: 8). Allah Swt. menganjurkan kepada hambanya agar memiliki sikap sabar justru karena Allah Swt. sangat mencintai para hambanya, bahkan cinta Allah Swt. kepada hambanya melebihi cinta hamba kepada diri mereka sendiri. Allah Swt. sangat mencintai orang-orang yang sabar (Yasin, 2009: 16).

Umat Islam mengikrarkan diri sebagai umat yang beriman kepada Allah Swt., beriman kepada malaikat, beriman kepada Rasulullah Saw., beriman kepada kitab-kitab Allah Swt., kepada hari kiamat dan beriman kepada qada’ dan qadar. Maka setiap orang beriman akan diuji tentang kesungguhan keimanan mereka (Yasin, 2009: 57). Ujian-ujian yang dialami para nabi yang ditampilkan dalam Al-Qur’an salah satunya dapat berupa musibah, tetapi Allah Swt. membagi-bagikan musibah dan nikmat imbalannya dalam bermacam-macam bentuk dan ragamnya bagi manusia. Sesungguhnya dia itu memiliki berbagai hikmah yang dalam (Al-Qorni, 1993: 56-57).

Berita di beberapa media masa telah menginformasikan bahwa akibat ketidak-sabaran banyak orang yang pingsan bahkan meninggal dunia. Misalnya, akibat tidak sabar menunggu antrean, ribuan masyarakat di Cilegon, Banten, yang mengambil dana kompensasi, Selasa (11-10-2005) saling dorong dan sikut, mengakibatkan puluhan orang pingsan dan kaca jendela kantor pos pecah.

Di kantor pos Jombang Tangsi, Cilegon, sebagian warga yang tidak sabar untuk antri manaiki pagar halaman. Bahkan ada puluhan warga yang jatuh pingsan akibat terjepit di tengah antrean warga untuk menerima dana kompensasi. Kejadian serupa terjadi di Kantor Pos Kavling Blok F Cilegon. Korban yang jatuh pingsan kebanyakan wanita separuh baya dan lanjut usia.

Begitu juga penyaluran dana kompensasi di Borongloe, sekitar 6 km dari pusat kota Sungguminasa, Gowa, Sulawesi Selatan nyaris diwarnai keributan. Warga tampak tidak sabar, mereka saling dorong hingga tiga kaca jendela kantor pos pecah dan penyaluran terpaksa dihentikan sementara hingga situasi dapat dikendalikan polisi yang telah disiagakan (Yasin, 2008: 178).

Dari data Dinas Perhubungan, 70 kali kecelakaan kereta api pada tahun 2009, paling banyak kereta anjlok 33 kasus, tabrakan kereta dengan kendaraan lain sebanyak 14 kasus, akibat banjir atau tanah longsor delapan kasus, tabrakan kereta dengan kereta empat kasus, terguling sebanyak tiga kasus dan karena sebab lain tujuh kasus (http://www.solopos.com). Salah satu penyebab tergulingnya kereta api dikarenakan muatan kereta api tidak seimbang dengan kapasitas yang telah ditentukan, hal itu terbukti dengan banyaknya penumpang yang nekat menaiki gerbong kereta api.

Contoh-contoh di atas hanya beberapa kejadian yang terjadi disebagian nusantara, dan masih banyak kejadian lain yang berhubungan dengan akibat ketidak-sabaran manusia. Oleh karena itu, kesabaran tidak hanya diartikan dalam arti sempit saja, tetapi juga harus diartikan secara luas dan dalam segala bidang kehidupan sehari-hari.

MAKNA SABAR

Di dalam Al-Qur’an Allah Swt. banyak sekali menggunakan kata “sabar” atau kata jadiannya, bahkan kata sabar disebut Allah Swt. tidak kurang dari 90 kali (Yasin, 2009: 12), antara lain Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, Sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43) (Depag RI, 2005: 576).

Pada ayat lain Allah Swt. juga berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah: 153) (Depag RI, 2005).

Kata sabar berasal dari bahasa arab “shabara – shabura – shabbran – shabaaratan ” yang berarti “menanggung atau menahan sesuatu” (Yasin, 2009: 11).

Secara etimologi (bahasa) sabar adalah menahan atau melarang (Khalid, 2006: 6). Sedangkan secara terminologi, sabar adalah menahan diri untuk melakukan keinginan dan meninggalan larangan Allah Swt. Sabar juga berarti sikap tegar dan kukuh dalam menjalankan ajaran islam ketika muncul dorongan nafsu, ketegaran yang dibangun di atas landasan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sabar dapat juga berarti puncak sesuatu, orang yang memiliki kesabaran, akan sampai pada puncak kemuliaan. Allah Swt. telah memuji orang-orang yang bersabar dan menyebutkan mereka dalam firman-Nya:

Artinya: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu’. orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) (Depag RI, 2005: 747).

Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah Swt. (http://ais.blogsome.com).

Rangkaian huruf-huruf shad, ba’, dan ra’, maknanya berkisar pada tiga hal, yaitu: “menahan”, “ketinggian sesuatu”, dan “sejenis batu”. Dari kata “menahan”, lahir makna “konsisten”; “bertahan”, karena yang bertahan menahan pandangannya pada satu sikap. Seseorang yang menahan gejolak hatinya dinamai sabar; yang ditahan dipenjara sampai mati dinamai “mashburah”. Dari makna kedua lahir kata “shubr”, yang yang berarti puncak sesuatu. Sedangkan makna ketiga muncul kata “as-Shubrah” yakni batu yang kukuh lagi kasar atau “potongan kecil” (Yasin, 2009: 12-13).

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia sabar adalah “tahan menderita sesuatu (tidak lekas marah, tidak lekas patah hati, tidak lekas putus asa, dan sebagainya), sabar adalah tenang; tidak pemarah; suka-penurut” (Poerwadarminta, 2007: 1001).

Sabar berarti menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diinginkan ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi (Fakhrudin, dalam http//:mykmu.net).

Secara Psikologis sabar dimaknai sebagai sebuah kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Dengan kata lain, sabar adalah upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu utuk mencapai ridha Allah (http://ais.blogsome.com). Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Ar-Raad: 22) (Depag RI, 2005: 372).

Sabar adalah bentuk ketenangan emosi yang luar biasa (sakinah, emotional stability), dimana struktur kalbunya tetap tidak bergeming dari tatapannya kepada Ilahi. Sabar merupakan kondisi pngendalian diri terhadap gejolak hawa nafsu yang mencuat dengan gejolak amarah atau pemberontakan terhadap tekanan batin (depression).

Kesabaran tumbuh dari jiwa yang mendambakan (membiasakan) zikir dan melatih jiwanya dalam kesengsaraan. Dia tidak merasakan ada sesuatu yang berubah pada saat menerima nikmat maupun mendapat ujian. Sikap sabar adalah ketangguhan seseorang dalam menghadapi segala cobaan dan musibah, tanpa ada sedikitpun yang berubah padanya yang tiada terbilang. Bahkan, dia menyatakan rasa syukur atas musibah yang dihadapinya karena bagi dirinya adalah sebuah keprihatinan yang nelangsa apabila dibandingkan dengan musibah yang lebih pahit di akhirat kelak. Begitu mulyanya tingkat kesabaran, sehingga dijadikan salah satu dari “Asmaul Husna dan mereka sangat dipujikan dan berhak mendapatkan shalawat, sebuah sapaan cinta dari Allah Swt. yang sejatinya hanya disampaikan kepada baginda Rasulullah Saw. (Tasmara, 2000: 173-174).

Secara harfiah sabar berarti tabah hati. Menurut Zun Al-Nun al-Mishry, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah Swt., tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan, serta menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dibidang ekonomi (Pujiono, 2003: 33). Seperti perkataan Al-junaid, “engkau menahan suatu kepahitan tanpa mengerutkan muka”. Adapun syukur, adalah tindakan memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Seseorang dikatakan bersyukur kepada Allah Swt., apabila ia mengakui nikmat itu di dalam batinnya, lalu membicarakannya dengan lisan, serta menjadikan karunia nikmat itu sebagai ladang ketaatan kepada-Nya. Pada hakikatnya syukur itu merupakan perwujudan sikap sabar ketika manusia mendapat nikmat (http//republika.co.id). Selanjutnya Ibn-Atha mengatakan bahwa sabar artinya tetap tabah dalam menghadapi cobaan dengan sikap yang baik. Dan pendapat lain mengatakan sabar berarti menghilangkan rasa mendapat cobaan tanpa menunjukkan rasa kesal. Ibnu Usman al-Hariri mengatakan, sabar ialah orang yang mampu memasung dirinya atas segala sesuatu yang kurang menyenangkan.

Sabar, “kesabaran” adalah “keteguhan hati”, merupakan kebajikan yang utama di padang pasir masa-masa jahiliyah. Sabar merupakan bagian dari shaja’ah, “keberanian”, yang merupakan unsur penting dari kesabaran (Toshihiko, 2003: 122). Dalam masyarakat jahiliyah, arti sabar bercampur dengan ketahanan diri. Akan tetapi, ketahanan diri memiliki makna yang berbeda, yaitu menahan sakit atau kesusahan. Makna kesabaran yang sebenarnya dijelaskan dalam Al-Qur’an. Perbedaan ini hanya dipahami oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Ketekunan orang-orang beriman bertujuan untuk mencapai ridha Allah Swt. Dengan demikian, sabar memberikan penerangan bagi orang-orang yang beriman, sedangkan “ketahanan diri” hanya memberikan kejengkelan dan kesusahan bagi orang-orang yang tidak beriman (Yahya, 2003: 42).

Para ahli ilmu pergaulan, atau budi pekerti, atau pendidikan berbeda-beda dalam membuat ta’rif (definisi) tentang kesabaran. Salah seorang diantara mereka mengatakan, bahwa sabar itu apabila jasmani anda menempuh suatu musibah sedangkan anda tersenyum karena merasakan kelezatan dalam keputusan dan ketentuan Allah Swt. Pendapat lain menyatakan, bahwa sabar itu apabila merasa ridha dengan apa yang telah di ridai Allah untukmu. Oleh karena itu, yang paling dicitai Allah Swt. adalah yang paling anda cintai. Pendapat lainnya lagi mengatakan bahwa, sabar adalah apabila harapan anda pada pahala lebih besar dari pada kesehatan yang lepas dari anda.

Sedangkan sabar menurut Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah salah satu dari peringkat ‘Ubudiyah (Al-Qorni, 1993: 20-21). Adapun menurut Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “sabar adalah menahan perasaan dari gelisah, putus asa, amarah, menahan lidah dari mengeluh, dan menahan anggota tubuh dari mengganggu orang lain”.

Dalam kitab At-Ta’rifat karangan As-Syarif Ali Muhammad Al-Jurjani disebutkan bahwa sabar adalah, “sikap untuk tidak mengeluh karena sakit, baik karena Allah Swt. apalagi bukan karena Allah Swt. Itulah sebabnya Allah Swt. memberikan pujian atau semacam penghargaan terhadap kesabaran nabi Ayyub As.(Yasin, 2009: 11).

Dikalangan para Sufi sabar diartikan sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah Swt., dalam menjauhi segala larangan-Nya dan dalam menerima segala percobaan yang ditimpakan-Nya kepada manusia (Pujiono, 2003: 33-34). Kaum Sufi juga memandang bahwa sabar merupakan sisi yang penting dalam memperbaiki kendala kejiwaan, sabar merupakan media yang paling ampuh dalam terapi penyakit jiwa, sabar si penderita itu sendiri merupakan obat jiwa, seperti yang dikatakan oleh Hamdun Al-Qishar, “seseorang tidak akan mengeluh atas sesuatu musibah kecuali yang menuduh Rabbnya.”

Sahl seorang Sufi berkata, “kesabaran adalah pengharapan akan lipuran dari Tuhan, kesabaran merupakan kebaktian yang paling mulia dan paling tinggi”. Sementara pendapat lain berkata, “kesabaran berarti bersikap sabar terhadap kesabaran”. Sahl juga berpendapat, “firman Tuhan yang berbunyi: ‘minta tolonglah kamu dengan kesabaran dan shalat’ (Al-Baqarah: 153), mengadung arti, mintalah petolongan Tuhan, dan bersabarlah dengan perintah dan takdir Tuhan” (Al-Kalabadzi, 1995: 116). 0020

Menurut Imam Al-Ghazali (1058: 111), “sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuh atas dorongan ajaran islam (Fakhrudin dalam http//:kahmiuin.com). Sabar merupakan suatu maqam (kedudukan) dari maqam-maqam agama, dan satu tingkat dari tingkat-tingkat orang-orang yang menempuh jalan tasawuf. Sehingga sabar merupakan salah satu maqam yang harus dijalani mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam maqam yang harus dilalui, biasanya maqam sabar diletakkan setelah zuhud. Keberhasilannya dalam maqam zuhud akan membawa ke maqam sabar. Dan dalam maqam sabar tiada lagi goncangan oleh penderitaan dan hatinya teguh dalam menghadapi cobaan dari Allah (Al-Ghazali, 1983: 150).

Pada hakikatnya sabar merupakan sikap berani dalam menghadapi kesulitan-kesulitan. Menurut Al-Kharraz sabar adalah sebuah isim (nama) yang mengandung makna-makna lahir dan batin. Sedankan menurut Tustari berkata, tidak disebut dengan satu perbuatan jika tanpa sabar, dan tidak ada pahala yang lebih besar dari pada sabar dan tidak ada bekal yang paling baik kecuali takwa (An-Najjar, 2004: 241-243).

Sabar mempunyai tiga unsur, yaitu: ilmu, hal, dan amal. Yang dimaksud dengan ilmu adalah pengeahuan atau kesadaran bahwa sabar itu mengandung kemaslahatan dalam agama dan memberi manfaat bagi seseorang dalam menghadapi problem kehidupan. Pengetahuan yang demikian seterusnya menjadi  milik hati. Keadaan hati yang memiliki pengetahuan yang demikian disebut hal. Kemudian hal tersebut terwujud dalam tingkah laku. Dan terwujudnya tingkah laku disebut amal (Fakhruddin, dalam http://kahmuiuin.blogspot.com).

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin menjelaskan maksud sabar yaitu menanggung segala kesukaran fisikal. Sabar juga membawa maksud menahan segala kehendak nafsu syahwat yang ada dalam diri seseorang yang sering menyuruh kita melakukan kemaksiatan kepada Allah Swt. (Chyrill, dalam http://mykmu.net). Hal tersebut senada dengan pendapat yang beliau kemukakan, bahwa sabar ialah melawan hawa nafsu dan menahannya dari kelezatan yang buruk (Al-Ghazali, 1995: 120). Adapun hakikat sabar sendiri adalah kegigihan mempertahankan dorongan agama dalam mengahadapi dorongan hawa nafsu. Itu adalah kekhususan manusia yang tersusun dari unsur malaikat dan binatang (Al- Ghazali, 2003: 173).

Oleh karena itu, Mahjuddin (2009: 11) menyimpulkan, bahwa sabar merupakan suatu sikap yang betah atau dapat menahan diri pada kesulitan yang dihadapinya. Tetapi, tidak berarti bahwa sabar itu langsung menyerah tanpa upaya untuk melepaskan diri dari kesulitan yang dihadapi oleh manusia. Maka sabar yang dimaksudkannya adalah sikap yang diawali dengan ikhtiyar, lalu diakhiri dengan sikap menerima dan ikhlas, bila seseorang dilanda suatu cobaan dari Tuhan.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat dipahami bahwa makna sabar adalah upaya menahan diri dalam melaksanakan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya, serta menghadapi cobaan atau ujian hidup untuk mencapai ridlo Allah Swt. Kesabaran berarti bertahan dalam arti aktif, inovatif, cerdas, dan prestatif. Sehingga yang dimaksud bertahan disini dapat berimplikasi pada berbagai ibadah dan berbagai line kehidupan.

MACAM-MACAM SABAR

Dalam Al-Qur’an terdapat banyak aspek kesabaran yang dirangkum dalam dua hal, yakni menahan diri terhadap hal-hal yang disukai dan menanggung hal-hal yang tidak disukai. Dalam Islam, sabar itu ada tiga tataran, yaitu:

Pertama     : Sabar atas perbuatan taat kepada Allah Swt.

Kedua                   : Sabar dari perbuatan maksiat

Ketiga                   : Sabar dari berbagai musibah (Al-Qorni, 1993: 14).

Adapun yang paling agung adalah sabar dalam menunaikan bermacam-macam ketaatan. Meskipun masih terdapat perselisihan pendapat, namun hal ini yang menjadi kecenderungan jiwa, yaitu agar selalu bersabar tatkala menjalani ketaatan. Kesabaran yang agung tersebut ialah kesabaran yang dituntut tatkala melaksanakan taat, lalu bersabar dan menyabarkan nafsu untuk melaksanakannya dengan sebaik-baiknya dengan khusyu’ dan tunduk.

Adapun sabar dari perbuatan maksiat adalah ketika kita digoda nafsu kita yang binal dan selalu menyuruh berbuat buruk, lalu kita bersabar dan mengharap pahala Allah Swt. Sedangkan sabar atas berbagai takdir dan musibah dari Allah Swt. ketika Allah Swt. menetapkan berbagai takdir atas diri kita dengan maksud untuk meringankan dosa-dosa atau meningkatkan derajat keimanan kita (Al-Qorni, 1993: 15).

Menurut Qordowi (2006: 39-46), ada tiga kategori sabar. Kategori tersebut adalah sabar dalam menghadapi musibah dan ujian, sabar dalam ketaatan serta sabar untuk menjauhi kemaksiatan.

Sabar dalam Menghadapi Musibah dan Ujian

Allah Swt. dengan sifat hikmah dan keadilannya menimpakan berbagai ujian dan cobaan kepada hamba-hambanya yang beriman pada khususnya, dan seluruh makhluk pada umumnya. Ujian dan cobaan akan datang silih berganti hingga datangnya kematian. Apabila demikian, maka sikap seorang muslim ketika menghadapi berbagai ujian dan cobaan adalah senantiasa berusaha sabar, terus-menerus memohon pertolongan Allah Swt., sehingga tidak mudah marah dan murka terhadap takdir yang menimpa dirinya, tidak pula putus asa dari rahmat-Nya (Ihsan, 2008: 49).

Tidak ada manusia yang bebas dari kesedihan hati, terganggu kesehatan tubuhnya, ditinggal mati orang yang paling dicintai, kerugian harta, gangguan manusia lain, kesulitan hidup, atau musibah bencana alam. Hal ini telah dinyatakan Allah Swt. dalam firman-Nya:

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157) (Depag RI, 2005: 39).

Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa ujian Allah Swt. agar menusia bersabar dapat berupa kematian, penyakit akut menahun, kemiskinan, anak-anak yang gagal dalam sekolah, problem-problem keluarga, bencana alam, himpitan zaman, dan sebagainya, yang demikian akan dialami oleh orang baik-baik ataupun orang jahat, yang beriman atau yang kafir, pemimpin atau rakyat yang dipimpinnya, sebab masalah tersebut sudah merupakan dinamika hidup manusia. Dalam Al-Qur’an dicontohkan kesabaran nabi Ayub As. dalam menanggung penderitaan sakit dan kehilangan anggota keluarganya. Kesabaran nabi Ya’kub As. berpisah dengan kedua orang puteranya (Yusuf As. dan saudaranya), dan dusta serta tipu muslihat anak-anaknya kepadanya (Qordowi, 2006: ). Namun beliau tetap bersabar atas ujian dan cobaan yang ditimpakan Allah Swt. kepadanya hanya untuk mengharap ridlo-Nya.

Sabar dalam Menaati Allah Swt.

Pada umumnya, melaksanakan ibadah merupakan tugas berat bagi nafsu manusia. Diantara bermacam-macam ibadah ada yang kurang disenangi dan malas untuk mengerjakannya, seperti shalat misalnya. Ada juga ibadah yang tidak disukai karena penyakit kikir yang diidap manusia seperti ibadah zakat. Dan ada juga yang tidak disukai karena sifat malas dan sekaligus kikir, seperti ibadah haji dan berjihat di jalan Allah Swt. Sabar dalam ketaatan berarti sabar terhadap tugas yang berat, untuk itu agar seseorang dapat taat dan patuh, dibutuhkan sabar dalam tiga hal; pertama yaitu sabar sebelum ketaatan dengan ikhlasun niat (meluruskan niat), dalam melawan bayang-bayang riya’ dan penyimpangan lainnya. Membulatkan tekat untuk jujur dan menepati janji; kedua yaitu sabar pada saat bekerja (operasional) agar tidak dapat melalaikan Allah Swt. dan tidak malas untuk menepati pelaksanaan, peraturan, dan hukum Allah Swt., dan memenuhi syarat-syaratnya hingga tuntas pekerjaannya. Selalu sabar melawan kelemahan, kekesalan dan kejenuhan (futuur); ketiga yaitu setelah selesai pekerjaan dibutuhkan kesabaran dengan tidak merasa bangga dan menepuk dada karena riya’ dan mencari popularitas, sehingga mengakibatkan hilangnya keikhlasan.

Sabar disini yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah Swt. dengan melaksanakan seluruh tugas dan kewajiban dalam beribadah kepada-Nya. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?.” (QS. Maryam: 65) (Depag RI, 2005: 470).

Imam Al-Ghazali berkata, “sabar dalam melakukan ketaatan adalah berat, karena nafsu manusia pada dasarnya enggan menyembah (beribadah), tetapi cenderung mendominasi orang lain”.

Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, kamilah yang memberi rezeki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132) (Depag RI, 2005: 492).

Kenikmatan dari kehadiran keluarga dalam satu rumah tangga diperoleh melalui hubungan harmonis masing-masing anggota keluarga satu dengan yang lain serta hubungan harmonis dengan Allah Swt. yang yang tercermin antara lain dalam pelaksanaan shalat. Yang termasuk kesabaran melaksanakan ketaatan adalah ketika manusia mampu mentransfer kesabaran dalam melaksanakan shalat.

Ayat di atas menerangkan bahwa setiap kepala keluarga agar memerintahkan keluarganya untuk melaksanakan shalat secara baik dan berkesinambungan pada setiap waktunya serta bersungguh-sungguh dalam bersabar atasnya, khususnya shalat yang diwajibkan maupun shalat yang disunnahkan terutama dalam melaksanakan shalat malam. Karena Allah Swt. tidak meminta rezeki dengan perintah shalat tersebut dan Allah Swt. tidak membebani manusia untuk menanggung rezeki bagi dirinya atau keluarganya, Allah-lah yang memberi jaminan rezeki kepadanya. Dan kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat adalah bagi orang-orang yang menghiasi dirinya dengan ketakwaan.

Sabar untuk Menjauhi Kemaksiatan

Dorongan dan tuntutan nafsu merupakan kesenangan manusia. Seperti kenikmatan dan kesenangan duniawi, keindahan perhiasan dunia dan nafsu seksual.

Bersikap sabar terhadap maksiat adalah lebih berat, apalagi terhadap maksiat yang sudah menjadi watak kebiasaan, sebab pasukan yang muncul untuk menghadapi dorongan-dorongan keagamaan disini terdiri dari dua lapis, pasukan hawa nafsu dan pasukan watak kebiasaan (Al-Ghazali, 2003: 176).

Bersabar dalam menjauhi kemaksiatan, merupakan kesabaran yang sulit atau berat untuk diterapkan dalam kehidupan, karena maksiat itu adalah sejalan dengan kehendak hawa nafsu manusia, apalagi maksiat yang sudah menjadi adat atau kebiasaan, misalnya dalam maksiat lisan, seperti ghibah, dusta, percekcokan, dan berbangga diri. Mungkin hal tersebut dianggap sepele, namun itu semua sangat membutuhkan kesabaran yang ekstra.

a.       Sabar menyangkut kesenangan hidup

Ini merupakan cobaan jenis baru, karena ia datang mengunjungi manusia dengan kesenangan, kekayaan, dan kemewahan hidup. Firman Allah Swt.:

Artinya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al-Fajr: 15-16) (Depag RI, 2005: 1058).

Allah Swt. baik dalam memberikan kemuliaan dan kesenangan ataupun pembatasan rezeki merupakan ujian dan cobaan. Orang-orang yang dapat bersabar terhadap gangguan penyakit hanyalah orang-orang syiddiq. Allah Swt. berpesan kepada hamba-hambanya terhadap fitnah harta, anak, istri, dan nafsu dunia seluruhnya. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15) (Depag RI, 2005: 942).

Imam Al-Ghazali berkata bahwa laki-laki yang utuh ialah yang sabar diwaktu sehat, tidak mengandalkan dirinya pada kesehatan tubuhnya saja. Dia menyadari bahwa kesehatan itu merupakan amanah dan suatu saat akan terlepas dari dirinya, karena itu janganlah menyia-nyiakannya dengan berhura-hura, terjerumus kenikmatan dan kelezatan, bermain-main dan bercanda. Orang yang sabar harus memelihara hak-hak Allah Swt. dalam hartanya dengn berinfak, dalam tubuhnya dengan menolong orang lain, dalam lidahnya dengan berbicara benar dan dalam segala kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya (Ihya’ Ulumuddin Jilid I, hal: 69).

b.      Sabar untuk tidak melirik kekayaan orang lain

Sabar terhadap kesenangan dan keindahan hidup duniawi, yaitu sabar untuk tidak melirik dan menoleh kepada kesenangan hidup dan kekayaan orang lain serta keinginan memperoleh kenikmatan harta dan anak yang mereka miliki, sementara mereka itu orang-orang yang angkuh dan menyeleweng. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman kepada Rasulullah Saw:

Artinya: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thahaa: 131) (Depag RI, 2005: 492).

c.       Sabar terhadap dorongan nafsu seksual

Sabar terhadap dorongan syahwat terutama syahwat seksual yang diakui kekuatan dorongannya oleh Islam dan merupakan salah satu kelemahan manusia dalam menghadapinya. Dalam perkara yang haram sabar atau menahan diri hukumnya wajib (fardlu).

Firman Allah Swt.:

Artinya: “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat Perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari Keuntungan duniawi. dan Barangsiapa yang memaksa mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.” (QS. An-Nur: 33) (Depag RI, 2005: 549).

d.      Sabar untuk tidak marah dan dendam

Kesabaran menahan diri dari marah-marah, dari membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan yang sama atau bahkan pembalasan yang lebih kejam. Firman Allah Swt.:

Artinya: “Dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan Balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126) (Depag RI, 2005: 421).

Contoh kesabaran seperti ini yaitu peristiwa anak Adam As. (Qobil) yang mengancam untuk membunuh saudaranya (Habil), tetapi saudaranya menjawab, seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (QS. Al-Maidah: 28) (Depag RI, 2005: 163).

Pembagian sabar dilihat dari kuat lemahnya perjuangan dorongan agama melawan dorongan nafsu, ada dalam tiga macam kedudukan, yaitu:

Kedudukan pertama, kekuatan yang berhasil menekan dorongan nafsu hingga tidak mampu melawan sama sekali, dan kesabaran itu berlaku terus-menerus. Sabar semacam inilah yang dimaksud oleh pepatah bahwa ‘barangsiapa bersabar pasti berhasil (sukses)’. Orang-orang yang mencapai tingkat ini sedikit sekali dan tidak diragukan lagi bahwa mereka inilah orang-orang yang disebut as-syiddiqun al-muqarrabun (orang-orang yang benar dan dekat kepada Allah Swt.). Mereka inilah yang mengatakan bahwa Allah Swt. itu Tuhannya, kemudian pengakuan itu mereka pegang teguh. Mereka orang-orang yang menempuh jalan lurus, nafsunya menjadi tenang di bawah kekuasaan dorongan agama, merekalah yang dipanggil dengan sebutan sebagaimana dalam ayat berikut:

Artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”. (QS. Al-Fajr: 27-28) (Depag RI, 2005: 1059).

Kedudukan kedua, yaitu dorongan nafsulah yang menang dan patahlah melawan dorongan agama secara keseluruhan. Ia menyerahkan dirinya ke bala-tentara setan, dan karena keputus-asaannya sama sekali tidak mengadakan perlawanan. Golongan inilah yang termasuk orang-orang yang lengah, dan golongan inilah yang terbesar. Mereka menghamba kepada nafsu dan bernaung di balik kecelakaan. Golongan inilah yang disyaratkan dalam firman Allah Swt.:

Artinya: “Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah Perkataan dari pada-Ku: ‘Sesungguhnya akan aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama’.” (QS. Sajdah: 13) (Depag RI, 2005: 661).

Mereka inilah orang-orang yang membeli dunia dengan akhiratnya dan yang pasti rugi perdagangan demikian. Malahan orang-orang yang sengaja memberi penerangan mereka oleh Allah Swt. diperingatkan dengan firman-Nya:

Artinya: “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Najm: 29-30) (Depag RI, 2005: 873).

Sabar menjalankan ketaatan dan sabar menghadapi kemaksiatan lebih utama dari pada sabar menghadapi musibah, karena sabar menjalankan ketaatan dan sabar menghadapi kemaksiatan merupakan kesabaran yang diinginkan, bukan keterpaksaan. Sedangkan sabar menghadapi musibah merupakan sabar yang terpaksa. Para ulama mempunyai banyak pendapat tentang masalah ini, namun pada akhirnya mereka sampai pada satu kesimpulan yang cukup sederhana, yaitu sabar menjalankan ketaatan lebih tinggi kedudukannya dari pada sabar menghadapi kemaksiatan.

Orang yang bersabar dan berkomitmen menjalankan ketaatan kepada Allah Swt., memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari mereka yang bersabar menghadapi kemaksiatan, hal tersebut dikarenakan faktor-faktor berikut:

a.       Sesungguhnya Allah Swt. menciptakan kita untuk beribadah dan mengenal-Nya. Inilah sebab keberadaan kita di muka bumi. Ibadah kepada Allah Swt. dan mengenalnya hanya bisa terealisasi dengan melaksanakan ketaatan kepadanya.

b.      Sesungguhnya Allah Swt. membalas setiap satu kebaikan dengan sepuluh pahala, dan setiap kejahatan dengan satu dosa saja. Dengan demikian, yang paling dicintai Allah Swt. adalah kebaikan.

Faktor-faktor inilah, sehingga para ulama menarik kesimpulan dengan membandingkan antara sabar menjalankan ketaatan dengan sabar menjauhi kemaksiatan. Berikut ini adalah urutan yang benar:

a.       Sabar menjalankan ketaatan

b.      Sabar menjauhi kemaksiatan

c.       Sabar menghadapi musibah (Khalid, 2006: 27-30).

HIKMAH SABAR

Menurut Yasin (2009: 53), bahwa sabar mempunyai beberapa hikmah, antara lain:

Sabar Sebagai Penolong

Kesabaran bisa menjadi penolong yang akan menyelamatkan seseorang dari bahaya, baik bahaya dunia terlebih bahaya akhirat. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) (Depag RI, 2005: 38).

Sabar dan shalat merupakan dua sumber kekuatan mental. Manusia dalam hidupnya memerlukan kekuatan, baik kekuatan jasmani (fisik) maupun kekuatan rohani (mental), karena sepanjang jalan kehidupan akan bertemu dengan berbagai halangan dan rintangan. Untuk memperoleh kekuatan mental supaya sanggup berdiri tegak menghadapi berbagai peristiwa hidup, jalan satu-satunya adalah mengusahakan dan melatih diri agar bersifat sabar dan tetap mengerjakan shalat, karena dalam shalat itu kita berbisik langsung dengan Tuhan, memuja, memuji, bersyukur, berdoa, dan memohon ampun kepada-Nya dari segala dosa yang terlanjur dibuatnya, serta berjanji melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya dengan segala kesungguhan dan keikhlasan hati (Fachruddin, 1992: 50-52).

Sabar Pembawa Keberuntungan

Allah Swt. memberikan konsep dan cara-cara memperoleh keberuntungan bagi siapa saja yang beriman kepada Allah Swt., percaya kepada malaikat, kitab-kitab Allah Swt., para rasul, hari akhir dan takdir Allah Swt., agar mereka bersabar dan bertaqwa, supaya dapat meraih keberuntungan sebagaimana tersurat dalam firman Allah Swt. berikut:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200) (Depag RI, 2005: 111).

Tak ada yang perlu diragukan dari janji Allah Swt., karena Dia tidak pernah dan tak akan pernah mengingkari janjinya. Tak ada yang perlu dibimbangkan lagi dari keberuntungan bagi orang-orang beriman yang bersabar dan bertaqwa, keberuntungan itu pasti datang, pasti akan mereka terima, baik di dunia maupun di akhirat, kalau tidak di dunia pasti di akhirat, asal mereka benar-benar beriman dan bersabar.

Mendapat Tempat yang Baik di Akhirat

Kesudahan yang baik, yang dimaksud disini adalah kehidupan setelah di dunia. Sebab, kehidupan ini secara umum ada dua kelompok, yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Disebut kehidupan dunia sebab di alam dunia orang melewati dua alam, yaitu alam rahim dan alam dunia. Sedangkan kelompok akhirat, karena disana ada dalam kubur, alam mahsyar, alam surga dan atau neraka. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Ar-Raad: 22) (Depag RI, 2005: 372).

Surga didapatkan dengan berbagai macam ujian dan cobaan, rintangan, dan gangguan. Asy-Syaikh As-Sa’di dalam (Mubarak, 2008: 47) mengatakan:

“Allah Swt., memberitakan bahwa Dia pasti akan menguji hamba-hambanya dengan kesenangan, malapetaka, dan kesulitan sebagaimana telah dilakukan atas orang-orang sebelum mereka. Ujian ini merupakan sunnatullah yang terus berlangsung, tidak akan berubah dan berganti. Barang siapa yang melaksanakan ajaran agama dan syari’atnya, pasti Dia akan mengujinya. Jika ia bersabar atas perintah Allah Swt. dan tidak perduli dengan segala rintangan yang terjadi di jalan-Nya, maka dia-lah orang yang akan mendapat tempat kesudahan yang baik (surga) dan telah memperoleh kebahagiaan yang sempurna.”

Semua itu menuntut agar manusia memiliki kesiapan untuk menrima berbagai macam ujian dengan bermacam-macam bentuk dan kadarnya. Terkadang sebuah perkara yang tidak disukai, ternyata mengandung banyak kebaikan. Orang yang beriman tidak lagi memiliki pilihan melainkan bersabar terhadap cobaan atau ujian yang menimpanya dan bersyukur jika ujian tersebut berbentuk kesenangan atau kegembiraan.

Sabar Dapat Menghapus Dosa

Diantara bentuk ujian dan cobaan itu adalah adanya berbagai jenis penyakit di zaman ini, karena kemaksiatan dan kedurhakaan umat terhadap Allah Swt. dan Rasulullah Saw. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41) (Depag RI, 2005: 647).

Menusia adalah wadah kelemahan dan keteledoran. Al-Qur’an memberi petunjuk tentang cara terampuh untuk menutupi dosa-dosa kecil yang diakibatkan oleh kelemahan itu serta menghindarkan dampak buruk keteledoran dan kelesuan untuk meraih keistiqomahan, yaitu dengan melaksanakan shalat secara teratur dan benar sesuai dengan ketentuan, rukun, syarat dan sunnah-sunnahnya pada kedua tepi siang dan pada bagian permulaan dari malam, karena yang demikian itu dapat menyucikan jiwa dan mengalahkan kecenderungan nafsu untuk berbuat kejahatan. Sesungguhnya kebajikan-kebajikan itu, yakni perbuatan-perbuatan baik seperti shalat, zakat, dan aneka ketaatan lain dapat menghapuskan dosa kecil yang merupakan keburukan, yakni perbuatan buruk yang tidak mudah dihindari manusia maka petunjuk-petunjuk yang disampaikan dalam Al-Qur’an sungguh tinggi nilai dan kedudukannya. Itulah peringatan yang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang siap menerimanya dan yang mengingat Allah Swt. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud: 114) (Depag RI, 2005: 344).

Seandainya, setiap dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia mesti dibalas tanpa ada maghfirah (ampunan)-Nya atau penghapus dosa yang lain, maka tidak akan ada di dunia diantara manusia yang selamat dari kemurkaan Allah Swt., sehingga termasuk hikmah dan keadilan Allah Swt. bahwa dia menjadikan berbagai ujian dan cobaan itu sebagai penghapus dosa-dosa manusia (Ihsan, 2008: 50). Sebagaimana hadits Rasulullah Saw., berikut:

Artinya: “Dari Abi Said dan Abu Hurairah Ra., berkata: Rasulullah Saw. bersabda: ‘tiada menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah Swt. akan menghapus dengannya dosa-dosanya’.” (HR. Bukhari Muslim) (as-Suyuti, 1995: 186).

Asy-Syaikh ibnu Utsaimin dalam kitab Riyadus Shalihin I (Bahraeisy, 1978: 476), berkata:

“Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah Swt. akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah Swt. Sehingga apabila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan.”

Dari keterangan di atas, apabila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu mengingat pahala dan mengharapkannya, maka ia akan mendapat dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan (sabar dan ridlo terhadap musibah). Namun, apabila ia lupa akan janji Allah Swt., maka akan sesaklah dadanya sekaligus menjadikannya lupa terhadap niat mendapatkan pahala dari Allah Swt.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa ada dua pilihan bagi seseorang yang tertimpa musibah; pertama, beruntung dengan mendapatkan penghapus dosa dan tambahan kebaikan; kedua, merugi, mendapatkan murka Allah Swt. karena ia marah dan tidak sabar atas takdir tersebut.

ASBABUN NUZUL QS. YUSUF

Surat Yusuf yang ayat-ayatnya terdiri dari 111 ayat, adalah surat yang ke dua belas dalam perurutan mushaf, sesudah surat Hud dan sebelum surat Al-Hijr. Penempatannya sesudah surat Hud sejalan dengan masa turunnya, karena surat ini dinilai oleh banyak ulama turun setelah turunnya surat Hud.

Surat Yusuf adalah satu-satunya nama dari surat ini. Ia dikenal sejak masa nabi Muhammad saw. Penamaan itu sejalan juga dengan kandungannya yang menguraikan kisah Yusuf as. berbeda dengan banyak nabi yang lain, kisah beliau hanya disebut dari surat ini. Nama beliau disebut dalam surat Al-An’am dan surat Al-Mu’min.

Surat Yusuf turun di Makkah sebelum Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah. Situasi dakwah ketika itu serupa dengan situasi turunnya surat Yunus, yakni sangat kritis, khususnya setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj dimana sekian banyak yang meragukan pengalaman Rasulullah saw. itu, bahkan sebagian yang lemah imannya menjadi murtad. Disisi lain, jiwa Rasul sedang diliputi oleh kesedihan, karena isteri beliau, Siti Khadijah ra., dan paman beliau, Abu Thalib baru saja wafat. Dalam situasi seperti itulah turun surat ini untuk menguatkan hati Rasulullah saw.

Dalam kisah ini, pribadi tokohnya adalah Yusuf as. dipaparkan secara sempurna dan dalam berbagai bidang kehidupannya. Dipaparkan juga aneka ujian dan cobaan yang menimpanya.

Surat ini adalah wahyu ke-53 yang diterima oleh Rasulullah saw. keseluruhan ayat-ayatnya turun sebelum beliau berhijrah. Ada pendapat yang menyatakan bahwa tiga ayatnya yang pertama turun setelah nabi berhijrah, lalu ditempatkan pada awal surat ini. Ketiga ayat yang dinilai turun di Madinah itu sungguh tepat merupakan mukaddimah bagi uraian surat ini sekaligus sejalan dengan penutup surat dan dengan demikian ia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Tujuan utama surat ini menurut Al-Biqa’i, adalah untuk membuktikan bahwa kitab suci Al-Qur’an benar-benar adalah penjelasan menyangkut segala sesuatu yang mengantar kepada petunjuk, berdasar pengetahuan dan kekuasaan Allah swt. secara menyeluruh baik terhadap yang nyata maupun yang ghaib (Shihab, 2005: 387-389).

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa setelah sekian lama turun ayat-ayat Al-Qur’an kepada Rasulullah saw. dan dibacakan kepada para sahabat, mereka berkata, “ya Rasulullah, bagaimana jika engkau bercerita kepada kami?”. Maka Allah swt. menurunkan: “allahu nazzala ahsanal hadits” sampai akhir ayat 69, yang menegaskan bahwa Allah swt. telah menurunkan sebaik-baik cerita (surat Az-Zumar: 23).

Menurut Ibnu Abi Hatim, para sahabat berkata lagi, “ya Rasululah, bagaimana engkau mengingatkan kami?”. Maka Allah swt. menurunkan ayat (surat Al-Hadid: 16), yang mengingatkan akan banyaknya ayat yang telah diturunkan Allah Swt. agar mereka menundukkan diri kepada-Nya.

Menurut riwayat lain, para sahabat berkata, “ya Rasulullah, bagaimana jika engkau mengisahkan kepada kami?”. Maka Allah Swt. menurunkan ayat ini (surat Yusuf: 3), yang menegaskan bahwa di dalam Al-Qur’an sudah terdapat kisah-kisah yang baik sebagai tauladan bagi kaum mukminan (Shaleh, 1997: 275-276).

BIOGRAFI NABI YUSUF AS.

Biografi atau riwayat hidup Yusuf as.  dapat dimulai dari kakek beliau yaitu nabi Ishaq as. Nabi Ishaq adalah putera nabi Ibrahim dari istrinya yang bernama Sarah. Atas permintaan ayahnya, nabi Ishaq as. menikah dengan wanita yang bernama Rifqah binti Bitauel bin Nahur. Nahur adalah saudara kandung nabi Ibrahim as., berarti Rifqah adalah cucu saudara kandung nabi Ibrahim as.

Setelah sepuluh tahun pernikahan, nabi Ishaq as. dikaruniai dua putera, yang pertama bernama ‘Iso dalam bahasa Arab disebut Al-Ish, dan yang kedua bernama Ya’qub, kemudian beliau menikah dengan kedua puteri pamannya yang bernama Lailah dan Rahil. Kemudian kedua istri nabi Ya’qub as. tersebut, masing-masing menghadiahkan budaknya kepada suaminya, dari Lailah memberikan budak perempuannya yang bernama Zulfa, sedangkan Rahil memberikan budaknya yang bernama Balhah, sehingga nabi Ya’qub as. mempunyai empat orang istri dan mempunyai dua belas anak dari mereka berempat.

Dari Lailah dikaruniai enam orang anak yaitu Raubin, Sam’un, Lawi, Yahudza, Yasakir, dan Zabolon. Dari Rahil dikaruniai dua orang anak yaitu Yusuf   dan Bunyamin. Dari Balhah dikaruniai dua orang anak yakni Da’an dan Nadtalii. Sedangkan dari Zulfa juga dikaruniai dua orang anak yakni Jad dan Asyir (Abdullah, 1985: 145).

Dari keterangan di atas, dapat diketahui bahwa Yusuf as. memiliki adik kandung bernama Bunyamin. Karena berakhlak baik, Yusuf as. dan Bunyamin sangat disayang nabi Ya’qub as. Hal ini membuat saudara-saudaranya iri sehingga mereka membuang Yusuf as. ke dalam sumur. Para pedagang Madyan lalu menemukan beliau dan menjualnya kepada seorang pembesar Mesir. Yusuf as. pun diangkat menjadi anak. Banyak wanita, terutama ibu angkatnya, tergoda oleh ketampanan Yusuf as. karena difitnah, beliau kemudian dipenjara. Allah swt. menganugerahi Yusuf as. kemampuan untuk menafsirkan mimpi. Yusuf as. lalu dipercaya menjadi pembesar Mesir. Ia pun akhirnya bertemu kembali dengan seluruh keluarganya dan memboyong mereka ke Mesir.

Sejak kecil, Yusuf as. dan Bunyamin sudah ditinggal mati ibunya. Nabi Ya’qub as. pun mencurahkan kasih sayangnya kepada mereka. Namun saudara-saudara tirinya iri dan menganggap sang ayah tidak adil. Mereka berniat membunuh Yusuf as., tapi ada yang tidak setuju. Akhirnya mereka sepakat membuang Yusuf as. ke dalam sumur. Mereka lalu pulang membawa baju beliau yang dilumuri darah palsu, agar terkesan bahwa Yusuf as.   telah dimakan serigala. Ayah mereka percaya akan hal itu.

Para pedagang Madyan menemukan Yusuf as. di dalam sumur. Mereka menyelamatkan beliau dan menjadikannya hamba sahaya yang layak dijual. Di pasar Yusuf as. dibeli oleh seorang pembesar Mesir bernama Futifar Al-Aziz dan istrinya yang bernama Zualikha. Kemudian Yusuf as.   dijadikan anak angkat.

Dalam Perjanjian Lama (dalam Sihab, 2005: Vol. 2: 388), pembesar Mesir tersebut bernama Potifar yang merupakan kepala pengawal raja. Ini terjadi sekitar 1720 SM. Setelah perjalanan hidup yang berliku-liku, pada akhirnya Yusuf as. mendapat kedudukan tinggi, bahkan menjadi penguasa Mesir setelah menikah dengan putri salah satu pemuka agama.

Ketampanan dan kesopanan Yusuf as. membuat Zulaikha tertarik kepadanya. Suatu hari,  Zalaikha menarik Yusuf as. ke dalam kamarnya. Namun, beliau menolak cinta ibu angkatnya itu. Dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa malaikat datang ke kamar Zulaikha dengan menyerupai ayah beliau. Lalu Yusuf as. melihat dan lari ke luar kamar, sedangkan Zulaikha menariknya dari belakang sehingga baju Yusuf as. robek.  Tiba-tiba suami Zulaikha datang, Zulaikha kaget, lalu memfitnah Yusuf as.   hendak memperkosanya. Namun, tuduhan itu ditolak oleh seorang saksi (bayi yang masih dalam buaian), dan ini merupakan semacam mukjizat yang mengukuhkan Yusuf as.

Para wanita Mesir mencerca Zulaikha karena telah mengoda hamba sahayanya. Untuk membuktikan bahwa ia tidak salah, Zulaikha mengundang mereka. Bermacam makanan, minuman, dan buah dihidangkan, Zulaikha lalu memerintahkan Yusuf as. muncul di tengah mereka. Para wanita itu terpesona dengan ketampanan Yusuf as. dan berusaha menggodanya. Beliau memohon kepada Allah swt. agar ia lebih dipenjara dari pada memenuhi ajakan mereka. Doanya dikabulkan Allah Yusuf as. dikirim ke penjara oleh Futifar agar masyarakat mengira bahwa Yusuf-lah yang bersalah (Ensiklopedia Islam dalam http:wikipedia.com).

Menurut Thahir ibn ‘Asyur (dalam Shihab, 2005: Vol. 2: 388), Yusuf as. meninggal di Mesir sekitar tahun 1635 SM. Konon, beliau dimakamkan di satu tempat yang bernama Syakim.

MAKNA SABAR DALAM QS. YUSUF

Makna Sabar yang Tersurat dalam QS. Yusuf

QS. Yusuf Ayat 18

Artinya: “Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata: ‘Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan’.” (QS. Yusuf: 18) (Depag RI, 2003: 189).

Menurut Ar-Razi tentang kata “fa shabrun jamilun”, adalah rintihan jiwa karena beratnya cobaan, tetapi rohani yang lebih dalam selalu mengajak dan mengingatkan supaya sabar dan rela menerimanya. Hal yang demikian menyebabkan diantara nafsu dengan roh terjadi perselisihan atau perang dalam batin. Kalau rintihan jiwa itu dapat diatasi, selamatlah diri, kalau tidak, maka diri bisa hancur. Oleh karena itu, Allah-lah yang akan sanggup menolong dalam hal yang seperti itu (dalam Hamka, 1982: Juz 12: 198).

Quraisy Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa nabi Ya’qub as. menyatakan bersabar dan meminta bantuan Allah swt. perlu dicatat bahwa sabar bukan berarti menerima nasib tanpa usaha. Allah swt. telah menganugerahkan kepada mahluk hidup potensi membela diri, dan ini adalah sesuatu yang sangat berharga dan perlu dipertahankan (Shihab, 2005: Vol. 2: 412). Rintihan jiwa karena beratnya cobaan dapat saja menyebabkan keluarnya keluahan, karena tidak tahan. Tetapi rohani yang lebih dalam selalu mengajak dan memberi ingat supaya sabar dan rela menerima (Hamka, 1982: 198). Tujuan kesabaran adalah menjaga keseimbangan emosi agar hidup tetap stabil, dan ini pada gilirannya menghasilkan dorongan untuk menanggulangi problema yang dihadapi atau melihat dari celahnya peluang untuk meraih yang baik atau lebih baik.

Ayat di atas menjelaskan bahwa nabi Ya’qub as. menghadapi putra-putranya dengan kesabaran yang baik, yakni sabar yang tidak disertai oleh rasa putus asa dan tidak mengadukan hal diri kepada orang lain. Dan hanya kepada Allah-lah beliau memohon pertolongan untuk memelihara dari kejahatan putra-putranya (Ash-Shiddiqy, 1995: 1910).

Akhirnya perintah memiliki kesabaran yang baik ditujukan secara khusus kepada nabi terakhir yaitu nabi Muhammad saw. dalam firman Alla swt. sebagai berikut:

Artinya: “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (QS. Al-Ma’arij: 5) (Depag RI, 2003: 454).

Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah swt. memerintahkan kaum muslimin untuk senantiasa bersabar dengan kesabaran yang baik, yakni kesabaran yang tidak disertai dengan kegelisahan (Al-Mahalli, 1997: Jilid 4: 2539). Yang dimaksud dengan sabar yang baik di sini, adalah sikap tenang, pandai meredam emosi, tidak mudah menyerah dan putus asa meskipun mengalami berbagai ujian dan cobaan, justru terus berusaha mengerahkan segenap potensi yang dikaruniakan oleh Allah swt. (Hamka, 1983: Juz 28: 105).

Kaidah dalam ilmu Tafsir “amrun lir rasul amrun li ummatih”, perintah yang ditujukan untuk Rasulullah saw. secara prioritas ditujukan juga untuk umatnya.

Pembahasan yang menarik dari para ulama Tafsir tentang surat Yusuf ayat 18 di atas adalah pada pendefinisan dan pemaknaan kesabaran yang baik. Ibnu Katsir menukil riwayat dari Sufyan Tsauri bahwa ada tiga hal yang termasuk dalam kategori sabar yang baik, yaitu tidak menceritakan kesakitan yang diterima, atau musibah yang menimpa kepada makhluk dan tidak pula merasa suci dengan itu (Luthfi dalam http://dakwatuna.com).

Namun, pada makna yang ada dalam surat Yusuf ayat 18, mengadu kesedihan dan kesusahan yang dihadapi kepada Allah swt. tidak mengurangi kesabaran yang baik, karena memang Allah-lah tempat mengadu semua makhluk.

Ar-Razi juga memahami kesabaran yang baik sebagai kesabaran yang diletakkan pada tempatnya. Misalnya bersabar terhadap ketentuan Allah swt. adalah sesuatu yang wajib, tetapi bersabar atas kedzaliman orang lain bukanlah termasuk kategori kesabaran yang baik. Justru Islam menuntun agar seseorang berusaha menghindar dari keburukan sehingga tidak terperosok dalam lubang yang sama (Luthfi dalam http://dakwatuna.com).

Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa hukum sabar terbagi menjadi empat, yaitu fardlu, mustahab (baik), makruh, dan haram. Sabar dalam melakukan yang wajib atau meninggalkan yang haram hukumnya wajib. Sabar dalam melakukan yang tidak wajib atau sunnah hukumnya baik (nafil). Sabar terhadap penderitaan diri dan tidak berbuat apa-apa hukumnya makruh. Sabar terhadap pelanggaran susila kepada keluarganya tanpa menunjukkan perlawanan sedang dia mampu maka hukumnya haram. Sabar merupakan merupakan separuh dari iman, jadi jangan beranggapan bahwa semua sabar itu terpuji (dalam Qordhowi, 2006: 33).

QS. Yusuf Ayat 83

Artinya: “Ya’qub berkata: ‘Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (QS. Yusuf: 83) (Depag RI, 2003: 195).

Pada surat Yusuf ayat 83, juga terdapat lafadz “fashabrun jamil”, serupa dengan apa yang diucapkan nabi Ya’kub as. ketika anak-anaknya datang menyampaikan kepadanya apa yang menimpa Yusuf as. dalam surat Yusuf ayat 18. Beliau mengucapkan kalimat tersebut untuk kedua kalinya karena dilanda kesedihan yang amat berat yakni kehilangan Bunyamin, adik Yusuf as. Namun dalam menghadapi cobaan yang amat berat tersebut, beliau tetap dalam keadaan sabar yang sebaik-baiknya, tidak gundah, tidak pula mengadu pada seorang pun, beliau berkata “aku mengadu hanya kepada Allah swt. semata dan kepada-Nya-lah kugantungkan harapanku”. Karena kesedihan adalah suatu keadaan alami bagi jiwa, tidak dicela oleh syara’, kecuali jika orang yang bersedih kemudian mengatakan atau melakukan apa yang diridloi oleh Allah swt. (Al-Maraghi, 1994: 48).

Sedangkan menurut Hamka, “shabrun jamil”. Sabar yang indah yaitu sabar yang dapat menyelesaikan kekusutan hati dan berserah diri kepada Tuhan dengan sepenuhnya kepercayaan kepada-Nya, menghilangkan segala keluhan, dan berperang dalam hati sanubari dengan segala kegelisahan. Sebab apabila kekacauan dan kesedihan hati diperturutkan, maka pengaruh hati yang iba akan besar kepada jasmani. Jadi, jelaslah bahwa shabrun jamil itu ialah kesabaran bahwa dibalik pasang yang naik, kelaknya pasang akan turun. Sesudah panas yang amat terik, hujan pun akan datang juga. Kehidupan ada kalanya mendaki dan adakalanya menurun, kumpulan itulah yang bernama irama hidup dan kemenangan itulah hasil dari shabrun jamil, contoh yang diberikan nabi Ya’qub as., meskipun telah tiga cobaan besar datang menimpa, namun pendirian beliau tetap shabrun jamil, sabar yang indah.

Beliau tidak akan mengeluh, menyesali, menyumpah dan mengutuk kepada anak-anaknya yang dahulu dikala masih kecilnya telah melakukan kesalahan besar, dan sekarang setelah dewasa pun masih bersalah. Keadilannya akan tetap, cinta kasih kepada mereka akan tetap, dan penderitaannya dipendam sendiri (Hamka, 1983: Juz 13: 32).

Perintah bersabar yang terakhir berdasarkan susunannya dalam mushaf yang ditujukan kepada Rasulullah saw. ternyata disertai dengan perintah menjauh dan menghindarkan diri dari mereka dengan cara yang baik. Allah swt. berfirman:

Artinya: “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzammil: 10) (Depag RI, 2003: 458).

Pada ayat ini, Allah swt. memerintahkan kaum muslimin untuk bersabar, menahan amarah, dendam, dan agar bersikap tenang dalam menghadapi berbagai ujian hidup, baik berupa gangguan dari sesama manusia maupun berupa ujian-ujian lainnya. Sabar adalah satu syarat mutlak bagi kaum muslimin yang ingin menuai kesuksesan di dalam hidupnya, karena apabila kesabaran itu hilang, maka pedoman jalan yang akan ditempuh atau rencana yang telah dirancang akan menemui kegagalan, semua disebabkan hilangnya kesabaran. Balaslah perbuatan orang-orang yang berbuat keburukan dengan kesabaran, dan jauhilah orang-orang yang berbuat demikian dengan cara yang baik (Hamka, 1983: Juz 28: 286).

Asy-Syaukani memahami perintah bersabar yang didampingi dengan perintah menjauhkan diri dari mereka dengan cara yang baik dalam ayat ini sebagai sebuah sikap yang tidak disertai dengan hinaan atau umpatan terhadap perbuatan buruk mereka. Atau maknanya tidak memperdulikan apa yang mereka perbuat, begitu juga tidak berusaha membalasnya meskipun memiliki kemampuan untuk itu (Luthfi dalam http://dakwatuna.com).

Dalam surat Yusuf ayat 18 dan 83 yang telah dijabarkan di atas, maka dapat dianalisis bahwa makna kesabaran yang baik adalah kesabaran tanpa ada keluhan, tanpa kegelisahan, tanpa ada perasaan tertekan, dan tanpa ada keinginan untuk berpaling, yaitu lisan dan hatinya sama-sama bersabar. Hal itu senada dengan pendapat Al-Qurtubi dan Asy-Syaukani, yang mengatakan bahwa kesabaran yang baik adalah kesabaran yang tidak disertai dengan keluhan atau aduan kepada sesama manusia.

Apabila lidahnya sesuai dengan hatinya, maka itulah yang dimaksud dengan kesabaran yang baik. Dari wajah-wajah kaum muslimin yang bersabar terdapat tanda-tanda keridloan tanpa kemurungan dan kerutan, seakan-akan tidak ada musibah yang menimpanya. Tetapi kesabaran yang baik bukan berarti tidak sakit dan tanpa tetesan air mata, karena mereka hanyalah manusia biasa yang mempunyai kelemahan, asalkan hal tersebut masih dalam batas kewajaran dan hanya mengadu serta memohon pertolongan kepada Allah swt.

Makna lain dari kesabaran yang baik adalah kesabaran yang positif. Yang dimaksud dengan kesabaran positif yaitu kesabaran yang disertai dengan usaha atau ikhtiar, mengerahkan segala potensi yang dikaruniakan Allah untuk mencari jalan keluar dan solusi atas persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya, namun tetap berserah diri kepada Allah swt. Tidak hanya berdiam diri menerima nasib tanpa disetai ikhtiar terlebih dahulu (Khalid, 2006: 24).

Oleh karena itu, dapat dianalisis dan disimpulkan bahwa makna kesabaran yang tersurat dalam QS. Yusuf adalah kesabaran yang tidak disertai dengan keluhan kepada sesama manusia, tetapi tetap berikhtiar untuk mencari jalan keluar, dan berserah diri kepada Allah swt.

Makna Sabar yang Tersirat dalam QS. Yusuf

QS. Yusuf Ayat 66

Artinya: “Ya’qub berkata: ‘Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh’. Tatkala mereka memberikan janji mereka, Maka Ya’qub berkata: ‘Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)’.” (QS. Yusuf: 66) (Depag RI, 2003: 194).

Dalam ayat ini menceritakan bahwa karena nabi Ya’qub as. tidak dapat melupakan peristiwa yang telah lalu dan tergambar di matanya wajah Yusuf as., beliau pun berkata, “sekali-kali aku tidak akan melepaskan Bunyamin pergi bersama kamu sebelum kamu berjanji yang dikuatkan sumpah dengan nama Allah swt. Setelah mereka memberi janji yang diminta, nabi Ya’qub as. pun berkata, “Allah yang menjadi saksi terhadap segala apa yang kita bicarakan ini dan Dia-lah yang sebaik-baik pemelihara dan Dia pula yang mentaufikkan kita untuk menyempurnakan janji” (Ash-Shiddiqy, 1995: 1955).

Ketika mereka memberikan janji setia yang disyaratkan kepada mereka, berkatalah nabi Ya’qub as., bahwa Allah swt. menyaksikan apa yang dia katakan dan syaratkan, serta menyaksikan jawaban mereka. Yakni, sesungguhnya Allah menjadi pengawas baginya, dan perkaranya diserahkan kepada Allah swt. semata, karena Dia-lah yang memberikan taufiq untuk menepati janji dan berlaku jujur dalam berjanji (Al-Maraghi, 1994: 25).

Menurut Quraish Shihab, dalam lafadz:

Allah adalah wakil terhadap apa yang kita ucapkan”, mengandung makna Allah Swt. menyaksikan ucapan dan tekat masing-masing. Karena itu, manusia bermohon kiranya Allah swt. membantu mewujudkannya melalui hukum sebab dan akibat yang terjangkau oleh kemampuan manusia. Sesudah itu, biarlah Dia yang Maha Mengetahui itu menilai upaya manusia dalam melaksanakan janji yang teguh lalu memberi sanksi dan ganjaran yang sesuai.

Dalam hal menjadikan Allah swt. sebagai wakil, atau bertawakkal kepada-Nya, manusia dituntut untuk melakukan sesuatu yang berada dalam batas kemampuannya. Tawakkal bukan berarti penyerahan mutlak kepada Allah swt., tetapi penyerahan tersebut harus didahului oleh usaha manusia. Diceritakan, seorang sahabat Rasullah saw. menemui beliau di masjid tanpa terlebih dahulu menambat untanya. Ketika Rasulullah saw. menanyakan hal tersebut, dia menjawab, “aku telah bertawakkal kepada Allah swt”. Rasul meluruskan kekeliruannya tentang arti “tawakkal” dengan bersabda, “Tambatlah terlebih dahulu untamu, kemudian setelah itu bertawakkallah” (HR. At-Tirmidzi).

Menjadikan Allah swt. sebagai wakil atau bertawakkal kepada-Nya, mengharuskan seseorang meyakini bahwa Allah swt. yang mewujudkan segala sesuatu yang terjadi di alam raya, sebagaimana ia harus menyesuaikan kehendak dan tindakannya dengan kehendak dan ketentuan Allah swt. Kehendak dan ketentuan Allah itu antara lain tercermin dalam hukum-hukum sebab dan akibat. Karena itu, yang tawakkal dituntut untuk berusaha. Tetapi, dalam saat yang sama ia dituntut pula untuk berserah diri kepada Allah swt. Ia dituntut melaksanakan kewajibannya, kemudian menanti hasilnya sebagaimana kehendak dan ketetapan Allah swt.

Nabi Ya’qub as. melakukan aneka upaya. Dalam konteks mengizinkan Bunyamin pergi, dia terlebih dahulu berdiskusi, mengambil janji serta memerintahkan anak-anaknya apabila tiba di tempat tujuan agar masuk dari pintu yang berbeda-beda agar terhindar dari hal-hal yang buruk (Shihab, 2005: Vol. 2: 495-496). Dapatlah dirasakan dalam hati, jika sampai nabi Ya’qub as. yang telah lanjut usia tersebut berkata demikian melepaskan anak-anaknya, sebab mereka semua akan pergi dari hadapannya, ke tempat yang jauh. Kota Mesir yang mereka tuju adalah kota besar, bahaya terlalu banyak disana. Beliau  benar-benar berpesan kepada anak-anaknya supaya bertawakkal kepada Allah swt. semoga diberi keselamatan, baik ketika perginya atau pulangnya (Hamka, 1983: Juz 13: 22)

Berkaitan dengan ketawakkalan yang diterapkan dan diajarkan oleh nabi Ya’qub as. kepada anak-anaknya, Allah swt. juga berfirman:

Artinya: “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali-Imran: 120) (Depag RI, 2003: 52).

Ayat ini masih melanjutkan uraian tentang orang-orang yang tidak wajar diangkat menjadi teman-teman tempat menyimpan rahasia. Menghadapi sikap mereka itu, Allah swt. berpesan kepada kaum muslimin agar tetap bersabar, tabah dan bertakwa, jika kamu bersabar dalam mendisiplinkan diri, tidak terbawa oleh hawa nafsu, serta cinta dan bukan pada tempatnya dan bertakwa, yakni menghindari tipu daya mereka atau bertakwa kepada Allah swt. dengan melaksanakan seluruh tuntunannya, termasuk juga upaya menangkal tipu daya mereka, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu, tetapi bila tidak, maka bahaya dapat menimpa (Shihab, 2005: Vol. 2: 199).

Senada dengan ayat di atas, Allah swt. juga berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), Maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.” (QS. Al-Maidah: 11) (Depag RI, 2003: 87).

Pada ayat ini, Allah swt. mengajak orang-orang yang beriman untuk mengingat kembali nikmat yang akan diberikan kepada mereka pada waktu ada suatu kaum yang bermaksud jahat, Allah swt. menahan dan melepaskan mereka dari kejahatan musuh. Menurut sebagian ahli tafsir, yang dimaksud dengan kejahatan dalam ayat ini ialah semua kejahatan yang dilakukan oleh orang kafir kepada Rasulullah saw. dan para sahabatnya pada permulaan lahirnya Islam, dan mereka selalu dilindungi Allah swt.

Mengingat hal-hal serupa itu sangat besar manfaatnya bagi kehidupan orang-orang yang beriman, karena dengan demikian akan lebih teguh imannya kepada Allah swt. dan kekuasaan-Nya, menimbulkan semangat dan kepercayaan kepada diri sendiri dalam menghadapi kesusahan dan penderitaan untuk menegakkan kebenaran. Pada akhir ayat ini, Allah swt. memerintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya tetap bertakwa kepada-Nya yang telah memperlihatkan kekuasaan-Nya dalam menolong dan melindungi mereka dari kejahatan-kejahatan musuh. Allah swt. menyuruh kaum muslimin bertawakkal kepada-Nya, setelah mereka melakukan usaha atau ikhtiar menurut kemampuan mereka, dan melarang mereka jangan sekali-kali bertawakkal selain kepada Allah swt. (Gani, 1995: Jidil 2: 403).

Menurut Yusuf Qordhowi, digabungkannya sabar dengan tawakkal, karena manusia dalam mencapai tujuannya tergantung kepada dua faktor, yaitu:

a)      Faktor dari dirinya sendiri, ialah kemampuan untuk berusaha memikul beban, juga dalam menghadapi segala kendala atau hambantan. Semua itu memerlukan kesabaran,

b)      Faktor yang berasal dari luar jangkauan dan kemampuan manusia. Itu merupakan rahasia ghaib dan takdir Allah swt. yang datang dengan tiba-tiba dan tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Menghadapi hal ini, seorang mukmin harus bertawakkal kepada Allah, berlindung kepada-Nya, dan percaya akan segala rencana Allah swt. (Qordhowi, 2006: 59).

QS. Yusuf Ayat 86

Artinya: “Ya’qub menjawab: ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya’.” (QS. Yusuf: 86) (Depag RI, 2003: 196).

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa nabi Ya’qub as. Tidak pernah jemu memanjatkan do’a dan keluhan kepada Allah swt., karena beliau yakin bahwa hanya Dia-lah yang mampu mengatasi semua kesulitan hamba-Nya. Jika nabi Ya’qub as. Menyampaikan keluhannya kepada selain Allah swt., maka pasti sudah lama beliau berhenti. Dan beliau mengetahui apa yang tidak diketahui anak-anaknya bahwa Yusuf as. Masih hidup dan diberi rezeki oleh Allah swt.

Kata bastsii mengandung makna kesusahan yang sangat besar lagi tidak dapat luput dari pikiran, sehingga menjadikan seseorang yang mengalaminya senantiasa menyebut dan menyampaikan kepada siapa saja akibat tidak dapat memikulnya sendiri. Sedangkan kata huznii adalah penyesalan dan keresahan hati atas peristiwa lalu yang tidak berkenan di hati. Ini dapat dipendam dalam hati dan tidak disampaikan kepada orang lain (Shihab, 2005: Vol. 2: 513).

Disinilah rahasia yang larat itu. Sebab beliau telah diberi tahu dengan ilham ataupun dengan wahyu oleh Allah swt., bahwa Yusuf as. Masih hidup, tetapi Allah Swt. Tidak memberitahukan di mana keberadaan Yusuf as. Kalau sekiranya sudah pasti Yusuf as.   Meninggal, tidaklah beliau akan sampai demikian sengsara oleh kedukaan, tidaklah matanya sampai putih. Dan beliau tidak mengeluhkan nasibnya kepada orang lain, sebab orang lain tidak akan dapat melepaskan dari kesedihan itu. Hanya kepada Allah-lah beliau memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesulitan (Hamka, 1983: Juz 13: 36).

Dari beberapa keterangan surat Yusuf ayat 66 dan 86 di atas, maka dapat dianalisis bahwa makna kesabaran yang tersirat dalam kedua ayat tersebut terwujud dalam bentuk ketawakkalan, yang mana tawakkal merupakan bagian dari sabar. Bentuk tawakkal yang sejati adalah jika seseorang melakukan berbagai upaya dan usaha dengan penuh kesungguhan dan bersusah payah, kemudian menyerahkan semua perkaranya kepada Allah swt. dan menunggu hasilnya. Dengan kata lain, bahwa bertawakkal tidaklah melupakan usaha dan ikhtiar.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna sabar yang tersirat pada ayat di atas adalah kesabaran dalam bentuk ketawakkalan, yaitu kesabaran tanpa ada keluhan, tetap berupaya dan berikhtiar namun tetap berserah diri kepada Allah swt. atas ketetapan-Nya.

MACAM-MACAM SABAR DALAM QS. YUSUF

Sabar Melaksanakan Ketaatan dalam QS. Yusuf

QS. Yusuf Ayat 5

Artinya: “Ayahnya berkata: ‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (QS. Yusuf: 5) (Depag RI, 2003: 188).

Pada ayat ini menjelakan, nabi Ya’qub as. sebagai seorang nabi, memahami dan merasakan bahwa ada suatu anugerah besar yang akan diperoleh anaknya. Itulah pemahaman beliau tentang mimpi ini. Beliau juga menyadari bahwa saudara-saudara Yusuf as. yang tidak sekandung selama ini selalu cemburu kepadanya. Memang sang ayah mencintainya dan memberi perhatian lebih kepadanya, karena dia anak yang masih kecil, lagi tampan dan sangat membutuhkan kasih sayang, karena ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya, Bunyamin.

Mimpi itu jika diketahui oleh saudara-saudaranya pasti akan lebih menyuburkan kecemburuan mereka. Karena itu, sang ayah memintanya agar merahasiakan mimpinya. Larangan ini menjadi lebih penting lagi karena mimpi hendaknya tidak disampaikan kecuali kepada yang mengerti, dan yang dapat memberi bimbingan tentang maknanya (Shihab, 2005: Vol. 6: 397).

Sesungguhnya setan telah mengetahui permusuhan di antara Yusuf as. dan saudara-saudaranya. Memang setan benci melihat orang yang berkasih-kasihan atau rukun bersaudaranya, dan senang sekali kalau permusuhan itu berlarut-larut. Sudah pasti setan akan ikut campur, menghasut saudara-saudara Yusuf as. dengan halus, sampai keluarga nabi Ya’qub as. hancur (Hamka, 1994: Juz 12: 172).

Nasehat sang ayah itu disadari sepenuhnya oleh Yusuf as. dan selalu diingat dan dikenangnya sehingga nanti pada akhir kisah ketika beliau telah dapat bertemu dengan seluruh keluarganya, beliau tetap mengatakan bahwasannya setanlah yang memperdayakan saudara-saudaranya sehingga terputus hubungan antara Yusuf as. dengan keluarganya (Gani, 1995: Jilid 4: 661).

Dalam melaksanakan ketaatan benar-benar diperlukan kesabaran, sebab tabiat manusia itu enggan untuk menghamba (al-‘ubudiyah) dan sebaliknya, menginginkan untuk dituhankan. Oleh karena itu, sebagian orang arif mengatakan bahwa dalam nafsu itu terkandung kata-kata yang pernah diucapkan Fir’aun, “Sayalah Tuhanmu yang maha tinggi”. Sesungguhnya setiap manusia juga memiliki naluri yang sama (egoisme jiwa). Jelaslah bahwa ibadah itu suatu hal yang berat bagi hawa nafsu. Ketidaksenangan terhadap ibadah adakalanya disebabkan karena rasa malas, misalnya dalam melaksanakan ibadah shalat. Adapula yang disebabkan karena kekikiran, seperti menunaikan zakat. Dan ada pula yang tidak disenangi justru karena kedua-duanya, seperti haji dan jihad (Al-Ghazali, 1983: 166).

Kesabaran dalam melaksanakan ketaatan sebagaimana dijelaskan pada ayat di atas, juga dicontohkan oleh nabi Ismail as. dalam melaksanakan perintah sang ayah, nabi Ibrahim as., sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah swt:

Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS. Ash-Shaffat: 102) (Depag RI, 2003: 359).

Pada ayat ini menceritakan tentang puncak ujian yang paling berat yang dihadapi nabi Ibrahim as. dan nabi Ismail as. Namun mereka lulus ujian karena telah melaksanakan perintah Allah swt. tanpa ragu.

Berkaitan dengan hal ini, Ibnu Taimiyah berkata, “kesabaran dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah lebih baik, lebih penting dan lebih utama dari kesabaran dalam mencegah diri dari maksiat. Kemaslahatan melaksanakan ketaatan lebih disukai oleh syariat dari pada meninggalkan maksiat”. Dengan demikian, nabi Ismail as. termasuk dalam kalangan orang-orang yang sabar dan taat kepada Allah swt. (Qordhowi, 2006: 80).

QS. Yusuf ayat 37

Artinya: “Yusuf berkata: ‘tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian’.” (QS. Yusuf: 37) (Depag RI, 2003: 191).

Ayat di atas menceritakan, setelah Yusuf as. mendengar mimpi kedua pemuda di dalam penjara, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat sebelumnya (ayat 36), dan mengetahui bahwa salah seorang akan terbunuh, maka sebelum menakwilnya, Yusuf as. mengajak mereka terlebih dahulu meninggalkan kepercayaan mereka dan beriman kepada Allah swt. untuk maksud tersebutlah beliau menyampaikan bahwa apa yang akan disampaikannya bersumber dari Allah swt. (Shihab, 2005: Vol. 6: 452).

Dengan kata lain, sebelum Yusuf as. memberikan takwil mimpi kedua pemuda itu, lebih dahulu dia berdakwah tentang kebesaran dan kekuasaan Allah, tentang nikmat Allah swt. yang telah diperolehnya dan sikap yang tidak mau tunduk kepada agama yang tidak benar.

Menurut para ahli tafsir, bahwa orang-orang kerajaan mengirimkan makanan yang beracun kepada orang-orang di dalam penjara dengan maksud untuk membunuh mereka. Namun Yusuf as. sudah tahu maksud orang-orang kerajaan itu dan telah dijelaskan kepada kedua orang pemuda itu. Beliau menjelaskan bahwa ilmu yang seperti itu adalah wahyu dari Tuhannya kepadanya. Dengan ilmu itulah Yusuf as. dapat menakwilkan mimpi, bukan seperti tukang tenung dan ahli nujum yang menggunakan pertolongan setan, menerka-nerka dan menjampi-jampi yang belum tentu benar. Selanjutnya Yusuf as. menjelaskan bahwa beliau tidak mau terpengaruh oleh ajaran agama yang salah. Beliau tinggalkan kepercayaan orang-orang yang tidak benar itu, orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah swt. dan mengingkari terhadap kehidupan akhirat (Gani, 1995: Jilid 4: 643).

Berdakwah di jalan Allah swt. akan diliputi berbagai halangan dan rintangan seperti rasa kesal, sakit hati, korban perasaan dan beban berat yang tidak dapat dipikul, kecuali oleh orang-orang yang mendapat rahmat Allah. Orang yang berdakwah, menyeru manusia agar membebaskan diri dari cengkraman hawa nafsu dan keragu-raguan akidah. Melepaskan diri dari keterikatan kepada anak dan belenggu adat kebiasaan. Meninggalkan tradisi nenek moyang dan adat istiadat yang keliru atau sesat. Menghapus perbedaan kelas dan ras. Memelihara batas larangan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya (Qordhowi, 2006: 48). Allah swt. berfirman:

Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17) (Depag RI, 2003: 329).

Pada ayat di atas, Luqman berpesan kepada anak-anaknya agar menyeru kepada manusia untuk berbuat kebajikan, mengajak kepada yang ma’ruf dan melarang kepada yang munkar, maka dibutuhkan kesabaran untuk menghadapi sikap dan tindakan mereka yang tidak menyenangkan, karena orang-orang yang tidak beriman selalu memusuhi orang yang mengajak kepada ma’ruf (kebaikan), sebab berat bagi mereka untuk melakukannya. Mereka selalu memusuhi orang yang melarang munkar (kejahatan), sebab kemunkaran merupakan hal mereka senangi (Qordhowi, 2006: 49).

Dari surat Yusuf ayat 5 dan 37 di atas, maka dapat dianalisis bahwa kesabaran dalam menjalankan ketaatan, yakni ketaatan kepada orang tua dan ketaatan kepada Allah swt. Ketaatan kepada orang tua sebagaimana yang dilakukan oleh Yusuf as., yakni ketaatan beliau kepada ayahnya (nabi Ya’qub as.) yang digambarkan dengan mematuhi apa pun yang diperintahkan oleh ayahnya. Sedangkan ketaatan kepada Allah, digambarkan nabi Yusuf as. dengan melaksanakan perintah Allah, yakni berdakwah di jalan-Nya.

Nabi Ya’qub as. adalah seorang nabi yang selalu mendapat ilham dari Allah, sedangkan nabi Yusuf as. adalah seorang anak yang taat kepada Tuhanya dan taat kepada orang tuanya, karena apa pun yang diperintahkan ayahnya pastilah itu kebaikan yang diilhamkan Tuhan. Dengan demikian, ketaatan Yusuf as. kepada ayahnya karena didasarkan ketaatannya kepada Allah swt.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kesabaran dalam menjalankan ketaatan dalam QS. Yusuf ialah kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada orang tua dan kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah swt. Kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada orang tua yaitu bersabar dalam mematuhi perintah orang tua dan menjauhi larangannya. Sedangkan kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dengan cara berdakwah di jalan-Nya, serta menjauhi larangan-Nya yaitu dengan bersabar dari berbagai halangan dan rintangan dalam berdakwah.

Sabar Menjauhi Kemaksiatan dalam QS. Yusuf

QS. Yusuf Ayat 8

Artinya: “(yaitu) ketika mereka berkata: ‘Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, Padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.” (QS. Yusuf: 8) (Depag RI, 2003: 188).

Pada ayat tersebut, sepintas tampak dengan kebenaran ucapan saudara-saudara Yusuf as., seakan-akan nabi Ya’qub as. telah membuat kekeliruan dengan tindakannya itu padahal dia seorang nabi yang selalu dibimbing Allah swt. dalam segala sikap dan tindakannya. Memang benar, nabi Ya’qub as. menumpahkan perhatian yang besar sekali terhadap Yusuf as., karena beliau melihat bahwa ada firasat dan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa anak itu mempunyai keistimewaan tentang sifat dan pembawaannya. Keistimewaan ini tidak terdapat pada saudara-saudaranya yang lain. Apalagi setelah belaiu mendengar Yusuf as. menceritakan mimpinya itu. Jadi kalau nabi Ya’qub as. lebih cinta kepadanya, maka hal itu adalah wajar. Apalagi Yusuf as. dan Bunyamin masih kecil-kecil yang lebih membutuhkan perhatian dan bimbingan orang tuanya dibanding saudara-saudaranya yang sudah besar.

Namun demikian, karena sifat iri dan dengki sajalah yang mendorong saudara-saudaranya untuk melakukan tindakan permusuhan terhadapnya bukanlah karena ayah mereka yang sudah menyimpang dari jalan keadilan (Gani, 1995: Jilid 4: 615).

Karena yang kedua dilebihkan, dan mereka merasa kurang diperhatikan, mereka bercakap-cakap bersama mereka, dan dengan sendirinya mereka merasa senasib, lalu menggerombol, satu gerombolan atau kelompok itu dinamai ‘ushbah (Hamka, 1994: Juz 12: 187). Kata ‘ushbah adalah kata yang menunjukkan kelompok yang terdiri paling sedikit sepuluh orang dan paling banyak empat puluh orang. Karena kelompok ini terdiri dari banyak orang, maka tentulah ia kuat (Shihab, 2005: Vol. 2: 402).

Rasulullah saw. juga memerintahkan umatnya agar selalu menjaga hubungan baik kepada bersama manusia, dan menghindari sifat iri dan dengki sebagaimana yang dilakukan saudara-saudara Yusuf as. Rasulullah saw. bersabda:

Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda: “janganlah kamu saling memutuskan hubungan, janganlah kamu saling membelakangi, janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling dengki. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara, tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya di atas tiga hari.” (HR. At-Tirmidzi) (Zuhri. 1992: Jilid I: 463).

Berdasarkan hadits tersebut, terlihat bahwa sabar terhadap maksiat lebih berat, apalagi terhadap maksiat yang sudah menjadi kebiasaan, contohnya seperti maksiat lisan, yang antara lain adalah ghibah, buruk sangka, dusta, pertengkaran, berbangga diri, dan sebagainya. Hal itu memang dianggap mudah, namun semua itu membutuhkan kesabaran yang tinggi (Al-Ghazali, 2003: 176).

Buruk sangka sangat dicela oleh agama, baik buruk sangka terhadap Allah swt., maupun buruk sangka terhadap sesama manusia. Dalam kehidupan sehari-hari yang keras di mana kesulitan-kesulitan bertumpuk-tumpuk, menyebabkan manusia merasa kecil hati, merasa lemah dan kecewa, hal itu menyebabkan berburuk sangka terhadap Tuhan., menganggap bahwa Tuhan menyengsarakan mereka, itu membuat mereka hidup dalam keadaan yang salah, hidup dengan hanya banyak menumpahkan pikiran-pikiran pada belenggu dirinya sendiri (berpandangan negatif dan pesimis).

Berburuk sangka terhadap sesama manusia juga sangat merugikan, sebab dapat meracuni suasana pergaulan dengan sesama manusia. Allah swt. melarang dengan tegas perbuatan buruk sangka melalui firman-Nya:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12) (Depag RI, 2003: 412).

Pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah melarang berburuk sangka karena dapat menimbulkan bahaya yang besar, sebab dari sumber yang satu itulah timbul berbagai kesalahpahaman yang akhirnya akan menjurus kepada permusuhan dan perpecahan, sebagaimana yang dilakukan saudara-saudara Yusuf as. kepada ayahnya.

QS. Yusuf ayat 23-25

Artinya: “(23) Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (24) Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (25) Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan Kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. wanita itu berkata: ‘Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?’.” (QS. Yusuf: 23-25) (Depag RI, 2003: 190).

Pada ayat 23 di atas menerangkan bahwa sekian lama sudah Yusuf as. berada di kediaman orang Mesir itu. Dari hari ke hari semakin jelas kehalusan budinya dan keluhuran akhlaknya. Kegagahan dan ketampanan wajahnya pun semakin menonjol. Menurut Thabathaba’i, ketika itu Yusuf as. usianya belum mencapai tiga puluhan. Dan suatu ketika, entah bagaimana Zalikha atau Zulaikha sadar bahwa dia telah jatuh cinta kepada Yusuf as. Jika pada mulanya dia masih dapat memendam perasaannya, tetapi lama-kelamaan desakan asmara tidak lagi dapat terbendung.

Keadaan Yusuf as. memang jauh berbeda bahkan bertolak belakang dengan wanita itu. Sejak kecil, hatinya telah berkaitan dengan Allah swt. Pengalamannya menghadapi cobaan cukup banyak, dan setiap cobaan berhasil dilaluinya dengan selamat, keselamatan yang diyakininya sebagai anugerah dari Allah swt.

Dalam ayat tersebut, Yusuf as. menyebutkan tiga hal setelah tiga hal pula dilakukan oleh wanita itu, yaitu merayu, menutup rapat-rapat pintu, dan mengajak berbuat. Dijawabnya dengan memohon perlindungan Allah, mengingat anugerah Allah swt., antara lain melalui jasa-jasa suami wanita itu serta menggarisbawahi bahwa ajakan itu adalah kezaliman, sedang orang-orang zalim tidak pernah akan beruntung.

Kata raawadathu terambil dari kata raawada yang asalnya adalah raada, yang mempunyai arti upaya meminta sesuatu dengan lemah lembut agar apa yang diharapkan dapat diperoleh. Bentuk kata yang digunakan ini barmakna upaya berulang-ulang. Pengulangan itu terjadi karena langkah pertama ditolak, sehingga diulang lagi, dan seterusnya (Shihab, 2005: Vol. 2: 423-425).

Selanjutnya, pada ayat 24 menggambarkan cukup jelas mengenai kesabaran Yusuf as. dalam menghadapi kemaksiatan. Banyak sekali faktor lahiriah yang seharusnya menghantar beliau menerima ajakan wanita itu. Beliau seorang pemuda yang belum menikah, dan yang mengajaknya adalah seorang wanita cantik lagi berkuasa. Kebaikan wanita itu terhadap Yusuf as. pasti banyak, dan perintahnya selalu beliau ikuti. Wanita itu pasti sudah berhias dan memakai wewangian, suasana istana pasti nyaman. Pintu-pintu pun telah ditutup rapat. Gorden dan tabir pun telah ditarik. Rayuan dilakukan berkali-kali bahkan dengan tipu daya sampai dengan memaksa. Boleh jadi, Yusuf as. sebagai seorang yang mengetahui seluk beluk rumah dan kepribadian wanita itu tahu bahwa kalaupun ternyata ketahuan oleh suaminya, maka sang istri yang lihai itu akan dapat mengelak. Namun sekali lagi semua faktor pendukung terjadinya kedurhakaan tidak mengantar Yusuf as. tunduk di bawah nafsu dan rayuan setan.

Begitulah lebih kurang keadaan Yusuf as. yang dilukiskan dalam ayat tersebut, sehingga walau beliau memiliki birahi sebagaimana manusia normal, namun karena beliau melihat Allah swt. dan bukti-bukti yang bersumber dari-Nya, maka jangankan tekad atau keinginan, perhatian dan pandangannya pun tidak lagi tertuju kepada wanita itu dan wanita lain (Shihab, 2005: Vol. 2: 428-431).

Sebagian ahli tafsir mengartikan kata hamma dalam ayat 4 ini dengan arti “ada perhatian”. Jadi dalam hal ini Yusuf as. hanya sekedar perhatian tidaklah mengurangi kesucian jiwa dan kebersihan hantinya karena ia sebagai manusia normal tentu mempunyai tabiat dan naluri yang sesuai dengan kemudahannya. Tetapi Yusuf as. dengan segera sadar, insyaf dan mengingat Allah swt. sehingga tetaplah beliau menolak ajakan itu (Gani, 1995: Jilid 4: 630).

Dan pada selanjutnya, ketika Yusuf as. “melihat” bukti dari Tuhannya dan setelah menyampaikan tekadnya untuk menolak permintaannya, beliau berlari meninggalkan tempat di mana wanita bersuami itu merayunya. Wanita yang telah dikuasai oleh setan dan nafsu itu berusaha menahan Yusuf as. agar tetap di kamar, sedang beliau berupaya keras untuk keluar (Shihab, 2005: Vol. 6: 432).

Sabar terhadap dorongan nafsu birahi sangatlah berat, karena dorongan syahwat terutama syahwat seksual yang diakui kekuatan dorongannya oleh Islam dan merupakan salah satu kelemahan manusia dalam menghadapinya. Islam mensyariatkan nikah kepada orang-orang yang sudah siap dan mampu untuk menikah, agar terhindar dari perbuatan zina, sebagaimana firman Allah swt:

Artinya: “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya…” (QS. An-Nur: 33) (Depag RI, 2003: 282).

Pada ayat di atas, diterangkan bahwa Allah swt. memerintahkan bagi orang-orang yang belum mampu untuk menikah, baik dari segi lahir dan batin untuk bersabar dan menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan, misalnya menahan diri dari perbuatan zina, hingga Allah mengaruniakan kemampuan tersebut kepada mereka.

QS. Yusuf ayat 33-35

Artinya: “(33) Yusuf berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh.’ (34) Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (35) Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu.” (QS. Yusuf: 33-35) (Depag RI, 2003: 190).

Menurut Quraish Shihab, ketika para undangan (wanita) melihat Yusuf as., diantara mereka ada yang berkata kepada istri Al-Aziz, “Kalau engkau, wahai istri Al-Aziz, ingin merayunya untuk dirimu, aku pun ingin. Aku tak kalah!”. Undangan yang lain pun juga berkata, “Ikuti saja kamuannya, hai Yusuf. Kami tidak rela engkau dihina atau dipenjarakan”.

Bagi Yusuf as. hanya satu kesimpulan yang lahir dalam benaknya setelah mendengar ancaman dan percakatan itu, yaitu semua mengajaknya durhaka kepada kekasihnya, Allah swt. Karena itu, beliau mengeluh (bukan berdoa, seperti pendapat sebagian ulama). Dengan mengatakan, Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada dari pada memenuhi ajakan mereka (maksiat).

Setelah para undangan bubar, pembicaraan menyangkut Yusuf as. menyebar. Dan kini nama baik salah seorang pejabat telah mulai tercemar. Sebenarnya sejak semula saat tertangkap basahnya istri pejabat itu, telah terbukti kebenaran Yusuf as., tetapi mereka mengambil tindakan yang keliru untuk waktu yang sedemikian lama. Akhirnya, lahir kesepakatan bersama, harus membersihkan nama baik keluarga dengan cara memenjarakan Yusuf as. sampai keadaan tenang dan pembicaraan tentang persoalan itu mereda (Shihab, 2005: Vol. 2: 447-449).

Sedangkan Gani, dkk, berpendapat bahwa Yusuf as. dipenjara maksud Allah swt. supaya Yusuf as. tetap bersih dan terpelihara dari segala godaan yang mengotori jiwanya. Juga supaya beliau menjadi orang yang sabar dan tahan menderita dalam penjara. Sebab Yusuf as. akan diangkat menjadi nabi untuk kaumnya (Gani, 1995: Jilid 4: 638).

Dari keterangan tersebut, menurut Hamka, apabila syahwat telah mengalahkan akal pikiran yang murni, maka ia termasuk orang-orang yang bodoh, sebab orang yang memperturutkan hawa nafsu tidaklah dikendalikan oleh akalnya. Maka segala dosa besar yang dikerjakan oleh manusia di dunia ini ialah disaat ia tidak terkendalikan lagi oleh akal (Hamka, 1994: Juz 12: 227).

QS. Yusuf ayat 92

Artinya: “Dia (Yusuf) berkata: ‘Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara Para Penyayang’.” (QS. Yusuf: 92) (Depag RI, 2003: 196).

Ayat tersebut menceritakan bagaimana tindakan nabi Yusuf as. setelah bertemu keluarga kembali. Setelah mendengar penyesalan dari saudara-saudaranya (yang diterangkan pada ayat sebelumnya), nabi Yusuf as. berkata, tidak ada cercaan terhadap kamu (Shihab, 2005: Vol. 2: 517). Itu berarti tidak ada kecaman, dendam, amarah, dan ejekan dari nabi Yusuf as. terhadap saudara-saudaranya itu baik pada hari itu juga maupun pada masa mendatang.

Alangkah indahnya sambutan nabi Yusuf as. ini, betapa terharunya saudara-saudaranya mendengar jawaban itu. Mulai hari itu juga tidak diungkit-ungkit lagi permasalahan itu, yang telah lampau biarlah hilang, dan memperbaiki masa yang akan datang. Jawaban itu pun ditutup dengan kata-kata yang penuh dengan kasih sayang (Hamka, 1983: Juz 13: 39).

Budi pekerti yang mulia dan kesopanan yang tinggi yang telah dilakukan oleh nabi Yusuf as. itu juga pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw., yaitu pada waktu beliau dan bala tentaranya menaklukan kota makkah. Setelah beliau bertawaf dan kemudian shalat sunnah dua raka’at, lalu menghadap para tawanan perang lalu sekita itu juga beliau membebaskan atau memerdekakan para tawanan itu (Gani, 1995: Jilid 5: 40).

Kesabaran menahan diri dari marah-marah dan dari membalas kejahatan orang dengan kejahatan yang sama atau bahkan pembalasan yang lebih kejam, misalnya sekali tamparan dengan berkali-kali pukulan dan sekali makian dibalas dengan puluhan caci maki dan sumpah serapah (Qordhowi, 2006: 44). Allah swt. berfirman:

Artinya: “Dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan Balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126) (Depag RI, 2003: 224).

Pada ayat di atas, mengandung himbauan agar manusia berusaha bersabar dalam menahan amarah, karena setiap orang pasti memiliki sikap marah, dan terkadang rasa atau sikap marah tersebut diluapkan sembarangan hingga menimbulkan masalah terhadap makhluk sekitar. Oleh karena itu, apabila menghadapi permasalahan dengan sesama manusia yang dapat menimbulkan rasa marah dibutuhkan kesabaran untuk meredam amarah tersebut, sebab memaafkan itu lebih baik daripada meluapkan amarah.

Rasulullah saw. bersabda:

Artinya: Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw. bersabda: “Tiada satu tegukan yang lebih besar pahalanya di sisi Allah daripada seteguk kemarahan yang ditahan oleh seorang hamba karena mengharap ridla Allah” (HR. Ibnu Majah) (As-Suyuti, 1996: Jilid 5: 7).

Dari hadits tersebut, dijelaskan bahwa orang yang bisa menahan amarahnya karena mengharap ridlo Allah swt. akan mendapat pahala yang besar di sisi-Nya.

Beberapa penyebab timbulnya marah, antara lain karena lapar, kesulitan dalam ekonomi, sakit, mengantuk atau sedang tidur, letih, sibuk, hamil, dan haid. Sedangkan cara untuk menahan atau meredam amarah antara lain dengan diam, memohon perlindungan kepada Allah swt. dari setan, mengubah posisi, berwudlu, dan memperbanyak dzikir (Yasin, 2009: 93-102).

Dari beberapa ayat surat Yusuf di atas, maka dapat dianalisis pada ayat 8 menjabarkan bahwa apa yang dilakukan saudara-saudara Yusuf as. tersebut adalah ghibah dan berburuk sangka terhadap ayahnya (nabi Ya’qub as.), itu merupakan dari bagian maksiat lisan. Macam-macam maksiat lisan, diantaranya adalah ghibah, dusta, membagakan diri, berburuk sangka, mencela, dan sebagainya.

Sebagaimana pendapat Al-Ghazali, bahwa maksiat itu sejalan dengan kehendak hawa nafsu. Sabar dalam kemaksiatan yang terberat adalah jiwa maksiat itu telah menjadi kebiasaan, misalnya bersabar dari maksiat lisan (Al-Ghazali, 1983: 169).

Pada ayat 23-25 dan 33-35, dianalisis bahwa Yusuf as. diberi kelebihan oleh Allah swt., namun beliau mampu bersabar dalam menjauhi kemaksiatan yakni menahan gejolak nafsu birahinya.

Hal tersebut senada dengan pendapat Ibnu Taimiyah bahwa Yusuf as. menjadi mulia di sisi Allah karena beberapa hal, yaitu beliau seorang pemuda yang lebih mampu melakukan perbuatan keji, namun itu tidak dilakukannya; beliau adalah orang asing yang tidak layak mendapat celaan dan cercaan dari manusia; beliau di rumah seorang wanita yang mempuyai kekuasaan yang mampu memberi jaminan untuk tidak mendapatkan sanksi hukum; dan bahwa wanita itu cantik, tempat yang mendukung untuk berbuat, bahkan wanita itu mengancam (Al-Qorni, 1993: 59).

Selanjutnya, pada ayat 92, dianalisis bahwa nabi Yusuf as. telah bersabar dari kemaksiatan untuk tidak marah dan dendam dengan apa yang telah diperbuat oleh saudara-saudaranya di masa lalu dengan memohon pertolongan kepada Allah swt. untuk dihindarkan dari sifat marah dan dendam, dan senantiasa diberi kesabaran untuk menghindarinya.

Untuk memperkuat analisis tersebut, Al-Qorni berpendapat bahwa salah satu cara untuk meredam amarah dan dendam yaitu dengan memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah swt., karena tidak ada seseorang yang dapat menghindarkan diri dari perbuatan buruk kecuali telah diberi kekuatan dan diselamatkan oleh Allah dari hal tersebut.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan yang terdapat dalam QS. Yusuf yaitu kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan dari gejolak nafsu birahi, menahan syahwatnya untuk tidak berbuat zina, serta kesabaran dalam menahan nafsu amarah, yaitu menahan diri untuk tidak marah dan dendam dari perbuatan yang baik, menyenangkan atau menyakitkan orang lain.

Sabar Manghadapi Musibah dalam QS. Yusuf

QS. Yusuf Ayat 15

Artinya: “Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu Dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: ‘Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi’.” (QS. Yusuf: 15) (Depag RI, 2003: 189).

Dari ayat di atas mengisyaratkan bahwa nabi Ya’qub as.   mengizinkan mereka (saudara-saudara) Yusuf as. membawa Yusuf as. Menurut Ash-Shiddiqy, sesudah dapat menundukkan ayah mereka kepada kemauan mereka dan memaksakan untuk menerima alasan-alasan mereka, walaupun pada lahirnya saja nabi Ya’qub as.   menerima alasan-alasan mereka itu mereka pun membawanya (Ash-Shiddiqy, 1995: 1909).

Menurut Al-Qurtubi, sepanjang mata nabi Ya’qub as. memandang, mereka menggendongnya menuju tempat penggembalaan untuk bermain dan bersuka ria. Dalam perjalanan itu mereka semua sepakat memasukkannya ke dasar sumur, akhirnya mereka memasukkannya (Shihab, 2005: Vol. 2: 408). Diriwayatkan oleh ahli-ahli tafsir bahwa sebelum dimasukkan ke dalam sumur, bajunya mereka tanggalkan lebih dahulu. Dan ada beberapa cerita yang lain di dalam tafsir, tetapi tidak termaktub dalam Al-Qur’an sendiri, misalnya dalam cerita itu bahwa beliau berusaha naik ke atas kembali dengan bergantung pada tali sumur, tetapi tali sumur itu segera mereka potong, sehingga Yusuf as. terjatuh kembali. Tetapi kisah Yusuf as. yang dituju bukan semata-mata kisah, melainkan pengajaran bagi kita, dalam Al-Qur’an sendiri tidaklah ada cerita secara terperinci (Hamka, 1994: Juz 12: 195).

Sewaktu Yusuf as. sudah berada dalam sumur, Allah swt. mewahyukan atau mengilhamkan kepada beliau, sehingga hatinya tidak risau mengalami apa yang dihadapinya. Menurut Thabathaba’i, kata dan Kami wahyukan kepadanya… kandungan kata tersebut adalah makna dan hakikat di balik apa yang mereka lakukan terhadap Yusuf as., bahwa mereka menilainya pembuangan, penghapusan nama dan penghinaan kepadanya tetapi pada hakikatnya peristiwa itu mendekatkannya ke singgasana kemuliaan, pengharuman nama dan penyempurnaan cahayanya. Tetapi para pelaku itu tidak menyadari hakikat tersebut (Shihab, 2005: Vol. 2: 408-410).

Termasuk bentuk-bentuk kesabaran menghadapi berbagai musibah, yaitu sabar menghadapi gangguan orang lain sebagaimana perlakuan saudara-saudara Yusuf as. terhadap beliau, namun beliau tetap bersabar dalam menghadapi ujian tersebut dan berserah diri kepada Allah swt. (Khalid, 2006: 40). Berkaitan dengan arti kesabaran dalam menghadapi gangguan manusia, maka Allah swt. berfirman:

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus Rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. maukah kamu bersabar?, dan adalah Tuhanmu Maha melihat”. (QS. Al-Furqon: 20) (Depag RI, 2003: 288).

Sejak zaman sebelum nabi Muhammad saw., Allah telah berulang-ulang mengirim utusan ke alam ini. Semua rasul-rasul itu makan dan minum dan masuk pasar keluar pasar sebagaimana manusia yang lain. Artinya, mereka juga hidup di tengah-tengah masyarakat. Dalam kehidupan mereka juga sama-sama memikul beban yang berat dan menjinjing yang ringan. Terkadang suatu pemikiran mendapat ujian dan cobaan, sebab kehidupan itu ialah tempat menguji kebenaran pikiran. Maka dalam inti ayat ini dikatakan, “dan Kami jadikan sebagian kamu menjadi ujian bagi yang lain”.

Lafadz attashbiruna pada ayat ini menanyakan apakah manusia dapat bertahan, tabah, kuat, dan bersabar dalam menghadapi kesulitan dan mempertahankan serta mengamalkan warisan Rasulullah saw. yang menjadi pedoman umat manusia yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Diantara manusia akan mendapat ujian tentang kebenaran pendiriannya, pendirian yang berdasarkan pada wahyu kebenaran yang mutlak. Apakah manusia mampu bersabar dan tabah menghadapi kesulitan tersebut tergantung kepada kesabaran dan ketabahan mereka juga. Setiap orang tidak mudah menerima kebenaran yang dibawa orang lain, hal tersebut bukan karena mereka tidak menyadari kebenarannya, melainkan karena manusialah yang tidak sanggup memperjuangkannya (Hamka, 1982: Juz 18: 267).

QS. Yusuf ayat 19-20

Artinya: “(19)Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, Maka Dia menurunkan timbanya, Dia berkata: ‘Oh, kabar gembira, ini seorang anak muda!’ kemudian mereka Menyembunyikan Dia sebagai barang dagangan. dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (20) Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, Yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf”. (QS. Yusuf: 19-20) (Depag RI, 2003: 189).

Ayat tersebut menerangkan bagaimana nasib Yusuf as. yang ditinggal di dalam sumur. Entah berapa lama kemudian, tidak dijelaskan oleh ayat ini, namun akhirnya datanglah kelompok orang musafir yang cukup banyak anggotanya dan telah panjang perjalanan. Mereka berhenti untuk beristirahat dan mengambil bekal utamanya air, lalu mereka menugaskan dari rombongan seorang pengambil air menuju sumur. Setibanya di mulut sumur, maka dia menurunkan timbanya untuk memenuhinya dengan air. Dan alangkah kagetnya dia. Seorang anak yang sangat tampan dan dengan wajah yang tak berdosa bergantung di tali timbanya. Dengan panuh suka cita karena menemukan anak yang dapat dijual atau diperbudak sebagaimana adapt ketika itu. Lalu mereka bersama-sama sepakat menyembunyikannya dengan jalan menjadikan anak itu sebagai barang dagangan.

Kata ghulam dipahami dalam arti anak lelaki yang berusia 10 sampai 20 tahun, namun tidak ada rujukan yang pasti tentang hal ini. Namun yang usia beliau belum dewasa atau bisa disebut remaja (Shihab, 2005: Vol. 2: 415).

Menurut Hamka, waktu ditemukan, Yusuf as. berdiam saja. Mungkin sekali beliau pun tidak ingin memberitahukan siapa orang tuanya, karena enggan hendak kembali pulang mengingat nasibnya yang teraniaya oleh saudara-saudarnya. Lalu mereka merahasiakannya, karena kalau mengetahui siapa orang tuanya, tentu mereka harus mengembalikan, sebab tidak boleh memperniagakan anak atau orang merdeka (Hamka, 1994: Juz 12: 201).

Selanjutnya, dalam perjalanan para penemu Yusuf as. berpikir panjang tentang anak yang mereka temukan itu. Banyak kekhawatiran yang muncul dalam benak mereka. Boleh jadi juga mereka tidak melihat keistimewaan-keistimewaannya, maka ketika mereka sampai di Mesir mereka membawanya ke pasar, dan pembeli pun mereka temukan. Setelah tawar menawar akhirnya mereka pun menjualnya dengan harga yang murah, karena khawatir orang tuanya atau tuannya mencari dan menemukannya, atau pembelinya menampakkan ketidaktertarikan agar harga jualnya dapat lebih murah dari yang ditawarkan.

Kata bakhs (murah) pada mulanya berarti kekurangan akibat kecurangan, baik dalam bentuk mencela atau memperburuk, sehingga tidak disenangi, atau penipuan dalam nilai atau kecurangan dalam timbangan dan takaran dengan melebihkan atau mengurangi (Shihab, 2005: Vol. 2: 416).

Sedangkan menurut Hamka, mereka ingin lekas anak itu lepas dari tangan mereka, sehingga kalau ada orang yang datang, mereka akan mudah mengatakan tidak tahu-menahu. Itulah sebabnya maka mereka menjualnya dengan harga yang murah, agar lekas dibawa orang pergi dari mereka (Hamka, 1994: Juz 12: 202).

Cobaan Yusuf as. berikutnya merupakan akibat dari gangguan orang lain yakni saudara-saudaranya sendiri yang menjadikan beliau sebagai dagangan budak. Seorang Yusuf as. yang awalnya berasal dari keluarga terhormat (keluarga nabi Ya’qub as.) kemudian dijual sebagai budak di pasar dengan harga yang murah. Hal ini merupakan salah satu musibah yang dialami oleh Yusuf as.

Semua manusia juga akan mengalami berbagai cobaan dan ujian dengan berbagai macam betuknya, sebab hal tersebut merupakan dinamika kehidupan dan masalah manusia. Tidak ada manusia yang bebas dari kesedihan hati, terganggu kesehatan tubuhnya, ditinggal mati orang yang paling dicintai, kerugian harta, gangguan manusia lain, dan lain-lain. Hal ini telah dinyatakan Allah dalam firman-Nya:

Artinya: “(155) Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. (157) Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157) (Depag RI, 2003: 18).

Pada ayat ini, mengandung makna bahwa Allah swt. menguji kaum muslimin dengan berbagai ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan (bahan makanan). Dengan ujian ini, kaum muslimin menjadi umat yang kuat mentalnya, umat yang mempunyai keyakinan yang kokoh, jiwa yang tabah dan tahan uji.

Allah swt. juga memerintahkan kepada nabi Muhammad saw. agar memberi kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “innalillahi wa innailaihi raji’un”, artinya sesungguhnya kami adalah milik dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kabar gembira itu adalah berita bahwa orang-orang yang sabar itu mendapat berkah, ampunan, rahmat dan pujian dari Allah swt., serta mereka mendapat petunjuk kepada jalan yang benar (Gani, 1992: Jilid 2: 268).

QS. Yusuf Ayat 21-22

Artinya: “(21) Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: ‘Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh Jadi Dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut Dia sebagai anak.’ dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. (22) Dan tatkala Dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya Hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (QS. Yusuf: 21-22) (Depag RI, 2003: 289).

Ayat di atas berkesinambungan dengan ayat sebelumnya, bahwa yang membeli Yusuf as. sebenarnya sangat bergembira dengan anak yang dibelinya itu, baik penjualnya tidak senang maupun pembelinya berpura-pura tidak senang. Karena anak itu sangat tampan, yang ketampanannya dinilai telah menghimpun setengah dari ketampanan. Belum lagi dengan tutur bahasanya dan cahaya keshalehan yang memancar dari wajahnya. Selain itu, dia (pembeli) juga tidak dikaruniai anak. Dan akhirnya, Yusuf as. diserahkan kepada istrinya, diperlakukan dengan khusus oleh tuan rumah dan ditugasi untuk melayani mereka, khususnya istri orang Mesir yang membelinya itu (Shihab, 2005: Vol. 2: 417).

Kemudian, sang Raja atau pembeli itu menyuruh isterinya untuk menyediakan tempat yang terhormat bagi Yusuf as. Menurut Asy-Syihab menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan memuliakannya adalah menyediakan tempat tidur yang terhormat, kamar yang pantas beralaskan permadani, dan seumpanya sebagai tamu terhormat (Hamka, 1994: Juz 12: 203).

Sungguh buta mata hati orang yang tidak melihat betapa dalam perjalanan hidup Yusuf as. ini. Beliau dibenci oleh saudara-saudaranya, dilempar ke sumur di kala kecilnya, dipisahkan dari keluarganya, dan dijual sebagai hamba sahaya, tetapi justru dalam status beliau dianggap hamba itulah Allah mengantarnya ke tangga pertama kesuksesan yang direncanakan Allah swt. untuknya. Allah swt. berkuasa terhadap urusan yang dikehendaki-Nya. Kemudian Allah menganugerahkan hukum dan ilmu kepada Yusuf as.

Kata hukman ada yang mempersamakan dengan hikmah. Makna kata hikmah antara lain berarti mengetahui yang paling utama dari segala sesuatu, baik ide maupun perbuatan. Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan atau diperhatikan akan menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan dan atau mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan. Dan masih banyak makna hikmah lainnya. Apa pun makna hukum dan ilmu yang dimaksud oleh ayat ini, pastilah ia merupakan sesuatu yang mantap dan benar, tidak disertai keraguan, atau kekeruhan akibat nafsu atau  godaan setan, karena keduanya adalah anugerah Allah swt. (Shihab, 2005: Vol. 2: 418-420).

Setiap kesulitan sering diidentikkan dengan ujian dan cobaan, sesungguhnya ujian dan cobaan tidak selalu berbentuk kesulitan bahkan kesenangan juga merupakan suatu ujian. Segala bentuk kemewahan dan kekayaan dengan memiliki fasilitas dunia yang dapat digunakan manusia, semua itu adalah ujian dari Allah swt. Kesenangan dapat berupa harta yang melimpah, anak dan keluarga yang banyak, dan sebagainya. Semua itu dapat menjadi keberkahan, namun dapat pula menjadi malapetaka yang menjerumuskan manusia dalam kesombongan dan keingkaran kepada Allah (Gani, 1990: Jilid. 3: 748), sebagaimana Allah swt. berfirman:

Artinya: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28) (Depag RI, 2003: 143).

Dalam ayat ini, Allah swt. memperingatkan kaum muslimin agar mereka mengetahui bahwa harta dan anak-anak mereka itu adalah cobaan. Maksudnya ialah bahwa Allah swt. menganugerahkan harta benda dan anak-anak kepada mereka sebagai ujian, apakah harta benda dan anak-anak tersebut semakin menambah ketakwaan kepada Allah, mensyukuri nikmat-Nya, serta melaksanakan hak dan kewajiban seperti yang telah ditentukan Allah swt. dan bagi orang-orang yang mengutamakan keridloan Allah daripada mencintai harta dan anak-anaknya, maka ia akan mendapat pahala yang besar dari Allah swt.

Pada surat Yusuf ayat 15 di atas dapat dianalisis bahwa cobaan yang dialami Yusuf as. tersebut adalah petualangan pertama yang diskenariokan Allah kepada Yusuf as. untuk membentuk kerakter dirinya, disitu Allah memberi petunjuk, dalam menghadapi cobaan tersebut sehingga beliau mampu memandang jauh ke depan, merumuskan langkah-langkah untuk mencari jalan kaluar dengan penuh kesabaran dan optimis.

Pada ayat 19-20 dapat dianalisis bahwa pada petualangan Yusuf as. berikutnya adalah dijadikan dagangan budak. Seorang Yusuf as. yang awalnya berasal dari keluarga terhormat (keluarga nabi Ya’qub as.), kemudian diperdagangkan sebagai budak di pasar dengan harga yang murah. Dengan cobaan tersebut, menjadi pelengkap pendidikan mental dari Allah kepada Yusuf as., bahwa manusia senantiasa harus membumi, memanusia, merakyat, rendah hati dengan tetap menjaga harga diri, semua itu menggambarkan bahwa Yusuf as. telah bersabar menghadapi cobaan yang kedua dari Allah swt.

Dan pada ayat 21-22, dianalsis bahwa Allah menguji Yusuf as. untuk mengalami mobilitas vertical dalam kehidupannya. Beliau menjadi anak angkat seorang pembesar Mesir. Ketika masuk dalam keluarga pembesar tersebut, karakterk kedewasaan, kemandirian, kesabaran, dan tawadhu’ Yusuf as. sudah terbangun, sehingga naiknya status sosialnya menjadi anggota keluarga pembesar Mesir tidak akan membuatnya besar kepada dan dis-orientasi. Jadi, dapat disimpulkan, meskipun Yusuf as. kemudian diuji oleh Allah dengan bentuk kesenangan, hal tersebut tidak menggoyahkan kesabarannya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada QS. Yusuf terdapat kesabaran dalam menghadapi musibah atau ujian yaitu ujian dalam bantuk kesulitan dan ujian dalam bentuk kesenangan. Ujian dalam bentuk kesulitan dapat berupa gangguan dari manusia dan kesengsaraan. Sedangkan ujian dalam bentuk kesenangan berupa harta yang melimpah dan kedudukan.

HIKMAH SABAR DALAM QS. YUSUF

Sabar sebagai Penolong dalam QS. Yusuf

QS. Yusuf Ayat 47

Artinya: “Yusuf berkata: ‘Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan’.” (QS. Yusuf: 47) (Depag RI, 2003: 192).

Setelah mendengar pertanyaan yang diajukan atas nama Raja dan pemuka-pemuka masyarakat itu (pada ayat 46), langsung saja nabi Yusuf as. berkata atau memerintahkan kepada mereka supaya bercocok tanam sebagaimana biasanya, yakni dengan memperhatikan keadaan cuaca, jenis tanaman yang ditanam, pengairan dan sebagainya, selama tujuh tahun berturut-turut dengan sungguh-sungguh (Shihab, 2005: Vol 2: 472).

Menurut Hamka, pada waktu tujuh tahun itu adalah tahun yang baik dan subur, hujan akan turun lebat, sungai Nil di Mesir akan melimpah-melimpah membawa bunga tanah. Tetapi kesuburan tanah mesti disambut dengan kerja keras, supaya hasilnya lebih melimpah. Apabila nanti datang masa panen, jangan dipanen atau diambil semua buah gandum itu dari tangkainya, supaya tahan lama. Ambil dan makan sekedarnya saja, sedangkan yang melekat pada tangkainya itu disimpan baik-baik di dalam lumbung (Hamka, 1994: Juz 12: 241).

Pada ayat ini, terkandung makna bahwa Allah swt. menepati janji-Nya kepada nabi Yusuf as. dengan memberikan kemampuan menakwilkan mimpi sang Raja itu, yang mana kemampuan tersebut akhirnya menjadi penolong bagi beliau, sehingga beliau dapat keluar dari penjara dan mendapat kedudukan yang tinggi sebagai pejabat di negeri Mesir.

Kesuksesan atau kebahagiaan yang diperoleh nabi Yusuf as. tersebut tidak lain karena hasil kesabarannya dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Allah Maha Kuasa dan Allah juga selalu menolong bagi orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman-Nya:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) (Depag RI, 2003: 18).

Manusia di dalam hidupnya memerlukan kekuatan jasmani (fisik) dan kekuatan rohani (mental), karena dalam mengarungi kehidupan akan menemui berbagai halangan dan rintangan. Oleh karena itu, perbekalan yang sangat diperlukan adalah kekuatan badan dan keteguhan hati. Untuk memperoleh kekuatan mental agar sanggup menghadapi berbagai cobaan hidup, jalan satu-satunya adalah mengusahakan dan melatih diri untuk bersifat sabar serta tetap mengerjakan shalat.

Dalam menghadapi berbagai cobaan, penderitaan, dan kesengsaraan, semua itu perlu dihadapi dengan keteguhan hati dan kesabaran. Selain dengan kesabaran juga dengan mengerjakan shalat, karena shalat merupakan komunikasi langsung dengan Tuhan, di dalam shalat manusia menyembah Tuhan, menghormati dan memuliakan-Nya dengan penghormatan yang setinggi-tingginya agar mendapat ampunan dari Tuhan, diberi kekuatan, keikhlasan dan kesabaran untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena setan cenderung mendorong manusia berbuat di atas garis kebenaran. Dengan mempermainkan umpan supaya terjebak ke dalam perangkapnya. Untuk itu diperlukan kesabaran dan shalat yang dapat menolong manusia dari kesesatan agar selalu berada di jalan yang lurus (Fachruddin, 1992: 50-51).

Sabar Pembawa Keberuntungan dalam QS. Yusuf

QS. Yusuf Ayat 56

Artinya: “Dan Demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Yusuf: 56) (Depag RI, 2003: 193).

Pada ayat ini, melanjukan keterangan ayat sebelumnya (ayat 55), bahwa permintaan nabi Yusuf as. itu diterima baik oleh Raja. Tetapi ayat ini mengingatkan bahwa jangan duga hal tersebut terlepas dari pengaturan Allah swt. Karena itu, ayat ini menegaskan bahwa Allah menjadikan hati dan pikiran Raja tertarik kepada nabi Yusuf as., sehingga dia memberi kedudukan yang baik di sisinya.

Ayat di atas tidak menjelaskan bagaimana cara nabi Yusuf as. melaksanakan kebijaksanaannya dalam bidang pertanian, logistik, dan perbendaharaan negara. Namun, ada hal yang pasti dan yang merupakan syarat bagi setiap pejabat serta berlaku umum kapan dan di mana saja, yaitu yang memegang satu jabatan haruslah yang benar-benar amat tekun memelihara amanah dan amat pengetahuan.

Menurut Asy-Sya’rawi, pernyataan ayat di atas ini tentang nabi Yusuf as., bahwa beliau menempati daerah mana saja di Mesir yang beliau kehendaki sebagai isyarat bahwa ketika itu pelayanan merata bagi seluruh masyarakat (Shihab, 2005: Vol. 2: 486).

Ibnu Abbas mengatakan, bahwa maka datanglah tahun-tahun yang subur dan musim yang makmur itu, lalu nabi Yusuf as. memerintahkan masyarakat supaya memperbaiki pertaniannya dan memperluasnya, dan apabila datang musing panen, beliau menyuruh hasil panen itu pada satu tempat pengumpulan yang telah disediakan, sehingga penuh berlimpah-limpahlah persediaan makanan, cukup untuk tujuh tahun.

Setelah itu datanglah musim paceklik yang ditakuti itu, tujuh tahun pula lamanya, hasil tanaman pun sangat berkurang, sehingga masyarakat mulai kelaparan. Setelah persediaan mereka habis, terpaksalah mereka meminta pertolongan Kerajaan. Di sinilah tampak kebijaksanaan nabi Yusuf as. dengan mendirikan lumbung-lumbung persediaan makanan itu. Dan meskipun orang-orang yang kelaparan itu sudah sudi menjual dirinya sendiri karena kehabisan harta benda, namun nabi Yusuf as. tidaklah suka memperbudak mereka (Hamka, 1983: Juz 13: 12). Karena kehandalannya dalam mengatur perbendaharaan Negara itu dan kesabaran beliaulah, akhirnya Allah swt. melimpahkan rahmat dan ganjaran kepada nabi Yusuf as.

Demikianlah Allah mengatur langkah-langkah tahap demi tahap untuk menempatkan nabi Yusuf as. pada kedudukan yang tinggi dan terhormat di Mesir dan berkuasa penuh disetiap pelosok negeri itu, sesuai dengan sunnah-Nya yang dimulai dengan mimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan sujud kepadanya yang menyebabkan ayahnya bertambah sayang kepadanya dan arena itu saudara-saudaranya bertambah dengki dan iri terhadapnya. Kemudian beliau dimasukkan sumur, lalu diambil oleh kafilah yang hendak pergi ke Mesir. Lalu dijual kepada penguasa di sana dengan harga yang murah sampai beliau menetap di istana sebagai salah seorang keluarga yang dipercaya.

Kemudian beliau digoda oleh isteri Al-Aziz dan difitnah sehingga dijebloskan ke dalam penjara. Dalam penjara beliau dikaruniai Allah swt. mentakwil mimpi dan dapat menakwil mimpi penghuni penjara. Akhirnya beliau menakwil mimpi Raja dan setelah seteri Al-Aziz  sendiri mengakui bahwa nabi Yusuf as. tidak bersalah, timbullah kepercayaan raja terhadap dirinya sebagai orang yang jujur, setiap tabah dan sabar menghadapi cobaan, berakhlak mulia, berilmu dan bijaksana, beliau diangkat sebagai penguasa. Semua kejadian itu merupakan suatu rentetan yang saling terjalin sangat erat hubungan satu dengan yang lainnya yang pada mulanya seakan-akan sudah ditakdirkan untuk selalu dirundung malam, tetapi pada akhirnya mendapat keberuntungan dan kebahagiaan (Gani, 1995: Jilid 5: 9).

Allah swt. memberikan konsep dan cara-cara memperoleh keberuntungan bagi siapa saja yang beriman kepada-Nya dan semua yang wajib diimani oleh kaum muslimin agar mereka bersabar dan bertakwa supaya meraih keberuntungan (Yasin, 2009: 54), sebagaimana difirmankan oleh Allah swt:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 200) (Depag RI, 2003: 61).

Ayat di atas menyeru kepada orang-orang yang beriman agar bersabar dalam menghadapi berbagai kesulitan, perjuangan, kepahitan dan gangguan, serta menguatkan kesabarannya dan tetap bersiap siaga agar tidak lemah serta senantiasa bertakwa dalam seluruh aktivitas hidupnya supaya terus menerus beruntung, yakni memperoleh apa pun yang diharapkannya (Shihab, 2005: Vol. 2: 322).

Tidak ada yang perlu diragukan dari janji Allah swt., karena Allah tidak pernah dan tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Tidak ada yang perlu dibimbangkan lagi dari keberuntungan bagi orang-orang beriman yang sabar dan bertakwa, keberuntungan itu pasti akan datang dan akan diterima oleh manusia, baik di dunia maupun di akhirat, asal mereka benar-benar bersabar.

Dalam ayat lain, Allah swt. juga berfirman:

Artinya: “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 35) (Depag RI, 2003: 383).

Pada ayat tersebut, Allah swt. menyatakan bahwa keuntungan yang besar akan dapat diraih oleh hamba-hamba-Nya yang sabar. Sabar dalam menjalankan perintah Allah swt. dan ajaran Rasullah saw. meskipun keadaannya dalam kesulitan. Tetap kokoh dalam menjauhi semua yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya, serta tahan uji terhadap segala cobaan, maka apabila itu telah diaplikasikan dalam kehidupan, keuntungan yang besar akan ia peroleh sebagaimana yang dijanjikan Allah swt.

Mendapat Tempat yang Baik di Akhirat dalam QS. Yusuf

QS. Yusuf Ayat 57

Artinya: “Dan Sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa”. (QS. Yusuf: 57) (Depag RI, 2003: 193).

Ayat ini berkesinambungan dengan ayat sebelumnya. Setelah berbicara tentang ganjaran di dunia (pada ayat 56), Allah swt. juga menegaskan bahwa adanya ganjaran khusus di akhirat bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.

Dalam ayat di atas, kata amanuu (beriman) menggunakan kata kerja masa lampau, dan kata yattaquun (bertakwa), ini menggunakan kata kerja masa kini yang mengandung arti kesinambungan. Ini agaknya untuk mengisyaratkan bahwa keimanan adalah sesuatu yang dapat diraih sekaligus dan secara spontan. Sedang ketakwaan berlanjut dari saat ke saat dan dapat diperoleh melalui aneka aktivitas positif (Shihab, 2005: Vol. 2: 487).

Nabi Yusuf as. telah sukses dalam pekerjaannya, alat pertama yang digunakan adalah iman dan takwa, sehingga karena iman dan takwanya beliau selalu sudi berbuat kebajikan. Demikian banyak cobaan yang dideritanya sejak kecil, dimasukkan ke dalam sumur, dijual sebagai budak, mendapat godaan wanita cantik, dan sampai meringkuk dalam penjara, semua itu semakin menambah kuat pribadinya dan teguh imannya, sehingga Allah swt. memberinya tempat yang baik di akhirat kelak (Hamka, 1983: Juz 13: 13).

QS. Yusuf Ayat 90

Artinya: “Mereka berkata: ‘Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?’. Yusuf menjawab: ‘Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami’. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90) (Depag RI, 2003: 196).

Dalam ayat tersebut, jawaban nabi Yusuf as. yang menyatakan ana Yusuf (akulah Yusuf) bukan berkata “Ya, Anda benar” dan semacamnya yang memberi kesan tentang betapa pahitnya yang dialaminya sejak beliau dilempar ke sumur. Hal itu, mengisyaratkan bahwa sangat halus ucapan dan keluhuran budi pekertinya terhadap saudara-saudaranya. Kata al-muhsinin pada ayat itu digunakan untuk dua hal. Pertama, memberi nikmat kepada pihak lain, dan kedua, perbuatan baik (Shihab, 2005: Vol. 2: 517).

Berkaitan dengan hal di atas, dalam surat dan ayat lain Allah swt. juga berfirman:

Artinya: “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Ar-Ra’ad: 22) (Depag RI, 2003: 201).

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia yang senantiasa bersabar dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan demi mengharapkan ridlo Allah swt. Sabar di sini berarti menahan diri terhadap segala hal yang tidak disenangi, baik dengan cara melakukan melakukan ketaatan dan menunaikan segala kewajiban yang telah ditetapkan agama maupun dengan jalan menjauhi hal-hal yang dilarang agama dan yang tidak disukainya, ataupun dengan sikap rela atas segala ketentuan Allah swt. yang telah berlaku berupa musibah dan sebagainya.

Orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut yang dijanjikan oleh Allah swt. bahwa mereka pasti akan memperoleh tempat kesudahan yang baik yaitu surga Jannatun Na’im di akhirat kelak, disamping kabahagiaan, ketengan dan kesejahteraan di dunia (Shihab, 2005: Vol. 6: 591).

Sabar dapat Menghapus Dosa dalam QS. Yusuf

QS. Yusuf Ayat 97-98

Artinya: “(97) Mereka berkata: ‘Wahai ayah Kami, mohonkanlah ampun bagi Kami terhadap dosa-dosa Kami, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)’. (98) Ya’qub berkata: ‘Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Yusuf: 97-98) (Depag RI, 2003: 197).

Ayat tersebut menjelaskan, ketika anak-anak nabi Ya’qub as. datang dari Mesir serta melihat peristiwa yang terjadi pada ayah mereka dan menyadari bahwa ayahnya telah mengetahui sekaligus membuktikan bahwa mereka selama ini berbohong, segera memohon maaf kepada ayahnya, serta memohon sekiranya nabi Ya’qub as. berdoa kepada Allah agar dosa mereka diampuni oleh Allah swt.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa untuk diterimanya taubat maka seseorang hendaknya terlebih dahulu mengakui kesalahan dan menyadarinya. Di sisi lain, nabi Ya’qub as. tidak langsung memohonkan ampun kepada mereka, tetapi menjanjikan, karena beliau ingin mendoakan mereka secara khusus dan pada waktu yang baik (Shihab, 2005: Vol. 2: 521).

Rasulullah saw. bersabda:

Artinya: Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda:  “Tidak seorang muslim pun yang tertipa kesakitan (karena) sebuah duri dan selebihnya, melainkan Allah menggugurkan keburukan-keburukan (dosa-dosa) untuknya, karena itu sebagaimana pepohonan menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari Muslim) (As-Suyuti, 1996: Jilid 5: 35).

Asy-Syaikh ibnu Utsaimin dalam kitab Riyadus Shalihin I (Bahraeisy, 1978: 476), berkata:

“Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah, sehingga apabila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan (sabar dan ridlo terhadap musibah), namun apabila kamu lupa akan janji Allah maka akan sesaklah dadanya sekaligus menjadikannya lupa terhadap niat mendapatkan pahala dari Allah swt.”

Memahami dan merasakan hakikat makna yang terkandung pada hadits di atas, ketika tertimpa sakit manusia akan merasakan sakit dan menangis karena pedihnya penderitaan yang dialaminya. Tetapi umat Islam yang beriman, yang memahami bahwa setiap penderitaan, kepedihan dan rasa sakit sampaipun duri yang menusuknya, tidak akan terlewatkan dengan sia-sia, dengan syarat bahwa ia tidak berburuk sangka kepada Allah swt. atas musibah yang menimpanya. Dengan demikian, kaum muslimin akan merasakan kenikmatan karena sabar dan mengharap pahala dari Allah swt. serta ampunan atas dosa-dosanya.

Pada beberapa ayat surat Yusuf tentang hikmah kesabaran. Pada ayat 47 dapat dianalisis bahwa kesabaran dapat menjadi penolong bagi siapa saja yang benar-benar bersabar dan bertakwa kepada Allah, sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Yusuf as., karena ketaatan dan kesabarannya kepada Allah sehingga Allah swt. mengaruniakan kemampuan mentakwilkan mimpi yang akhirnya itu menjadi penolong bagi beliau untuk keluar dari penjara dan mendapat kedudukan yang mulai di negeri Mesir.

Pada ayat 56, dapat dianalisis bahwa hasil dari kesabaran nabi Yusuf as. membuahkan keberuntungan, dengan cara bersabar serta berikhtiar melalui takwil mimpi yang dikaruniakan Allah kepadanya sehingga mendatangkan keberuntungan bagi beliau, sebagaimana janji Allah bahwa orang-orang yang sabar dan bersungguh-sungguh dalam kesabarannya serta bertwakkal, maka akan mendapat keberuntungan. Dan disini terbukti bahwa Allah swt. tidak pernah mengingkari janjinya.

Pada ayat 57 dan 90, dianalisis bahwa Allah menjanjikan tempat yang baik di akhirat kepada nabi Yusuf as., karena beberapa faktor, yaitu kesabaran menghadapi berbagai ujian dan cobaan, keimanan, dan ketakwaannya kepada Allah. Oleh karena itu, pantaslah beliau mendapatkan tempat yang baik yaitu Jannatun Na’im.

Selanjutnya, pada ayat 97-98, dapat dianalisis bahwa  kesabaran nabi Ya’qub as. atas segala musibah yang menimpanya itu mendatangkan hikmah kesadaran kepada saudara-saudara Yusuf as. atas dosa-dosa mereka yang telah lalu. Kemudian, mereka bertobat dan meminta ampun kepada Allah melalui ayahnya. Dengan demikian, ampunan dosa tersebut diperoleh berkat kesabaran nabi Ya’qub as., sehingga kesabaran itu dapat menghapuskan dosa.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam QS. Yusuf terdapat beberapa hikmah kesabaran antara lain: barang siapa yang mampu bersabar dan bertakwa, maka Allah swt. akan memberi pertolongan padanya; hasil dari kesabaran dan selalu berikhtiar adalah keberuntungan di dunia, baik jasmani maupun rohani; Allah swt. telah menjanjikan tempat kesudahan yang baik bagi orang-orang yang mampu bersabar dalam keimanan dan ketakwaan kepada-Nya; dan hikmah yang terakhir yaitu bagi orang-orang yang bersabar dan bertaubat, maka Allah swt. akan menghapuskan dosa-dosanya.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber dari Buku:

Abdullah, Afis. Nabi-nabi dalam Al-Qur’an. Semarang: Toha Putera. 1985

Anwar, Rosihon. Ilmu Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia. 2007

Bahreisy, Salim. Terjemah Riyadus Shalihin I. Bandung: Al-Ma’arif. 1978

Bungin, Burhan. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta : Raja Grafindo. 2001

Danim, S. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia. 2002

Depag RI. Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan. Depag RI. 2006

Fachruddin. Pembinaan mental, Bimbingan Al-Qur’an. Jakarta: Rineka Cipta. 1992

al-Farmawi. Abd. Al-Hayy. Metode Tafsir Mawdhu’iy. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1994

Gani, Bustami, dkk. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid II. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia. 1997

_ _ _ _ _ _. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid III. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia. 1990

_ _ _ _ _ _. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid IV. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia. 1997

_ _ _ _ _ _. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid V. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia. 1997

al-Ghazali. Bahaya Lidah. Zainuddin (ed.). Jakarta: Bumi Aksara. 1994

_ __ _ _ _ _. Neraca Beramal. Musthafa (terj.). Jakarta: Rineka Cipta. 1995

_ _ _ _ _ _. Taubat, Sabar, dan Syukur. Nurhikmah dan Sumito (terj.). Jakarta: Tirta Mas. 1983

_ _ _ _ _ _ . 40 Dasar Agama Menurut Hujjah Al-Islam. Yogyakarta: Pustaka Sufi. 2003

Hamka. Tafsir Al-Azhar Juz XI-XII. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1994

_ _ _ _ _ _. Tafsir Al-Azhar Juz XIII-XIV. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1983

_ _ _ _ _ _. Tafsir Al-Azhar Juz XVIII. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1982

_ _ _ _ _ _. Tafsir Al-Azhar Juz XXVIII. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1983

Hariwijaya, dan Triton. Pedoman Penulisan Ilmiah Proposal dan Skripsi. Yogyakarta: Tugu Publiser. 2008

Hasyim, Ahmad Umar. Menjadi Muslim Kaffah, Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Yogyakarta: Mitra Pustaka. 2004

Ihsan, Abul ‘Abbas Muhammad. Adab Ketika Sakit. Yogyakarta: Majalah Asy-Syariah. Vol.IV/No.44/1429 H/2008 M

al-Kalabadzi, ibn Abi Ishaq Muh. bin Ibrahim bin Yaqub Al-Bukhari. Ajaran Kaum Sufi. Bandung: Mizan. 1995

Khalid, Amru. Wahai Saudaraku, Bersabarlah. Jakarta: Hikmah. 2006

Kinayati, Djojasuroto. Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Bahasa Dan Sastra. Bandung: Nuansa. 2000

al-Mahalli, Imam Jalaludin dan As-Suyuthi. Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Ayat Jilid 4. Bandung: Sinar Baru. 1997

Mahjuddin. Akhlak Tasawuf I (Mu’jizat Nabi, Karamah Wali, dan Ma’rifah Sufi). Jakarta: Kalam Mulia. 2009

_ _ _ _ _ _. Konsep Dasar Pendidikan Akhlak dalam Al-Qur’an dan Petunjuk Penerapannya dalam Hadits. Jakarta: Kalam Mulia. 2000

Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2004

Muhadjir, Noeng. Metode Reasearch. Jakarta: Aksara. 2000

an-Najjar, Amin. Ilmu Jiwa dalam Tasawuf, Studi Komparatif dengan Ilmu Jiwa Kontemporer. Jakarta: Pustaka Azam. 2004

Nasution.  Metode Research, Jakarta : Bumi Aksara. 2003

Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2007

Pujiono, Abd. Hamid. Manusia Menyatu dengan Tuhan. Surabaya: Target Press. 2003

Qordhowi, Yusuf. Al-Qur’an Menyuruh Kita Sabar. Jakarta: Gema Insani. 2006

al-Qorni, Aidh bin Abdullah. Agar Sabar Menghadapi Cobaan. Solo: Pustaka Mantiq. 1993

ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid II. Jakarta: Gema Insani Press. 2000

Shaleh, Qamaruddin, dkk. Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Qur’an. Bandung: CV. Diponegoro. 1997

Shihab, Quraish. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan Pustaka. 2002

_ _ _ _ _ _. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan Pustaka. 2007

_ _ _ _ _ _. Tafsir Al-Misbah Volume. 2. Jakarta: Lentera Hati. 2005

_ _ _ _ _ _. Tafsir Al-Misbah Volume. 6. Jakarta: Lentera Hati. 2005

as-Suyuti, Imam Jalaludin Abdurrahman. Al-Jami’ush Shaghir Jilid I. (terj.) Nadjih Ahjad. Bina Ilmu Ofset: Surabaya. 1995

Tasmara, Toto. Menuju Muslim Kaffah, Menggali Diri. Jakarta: Gema Insani. 2000

Tim Revisi Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah S1. 2009. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah S1. STAIN Jember

Tosihiko, Izutsu. Konsep-konsep Etika Religius dalam Qur’an. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2003

Yahya, Harun. Nilai-nilai Moral Al-Qur’an. Jakarta: Senayan Abadi Publising. 2003

Yasin, Ahmad Hadi. Dahsyatnya Sabar. Jakarta: Qultum Media. 2009

Zuhri, Moh. Terjemah Sunan At-Tirmidzi Jilid I. Semarang: Asy-Syifa’. 1992

Sumber dari Internet:

Ais dalam http//ais.blogsome.com. Makna Sabar. Diakses pada tanggal 04 Juni 2009 pukul 19.00 Wib

Attabiq Luthfi dalam http//dakwatuna.com. Kesabaran yang Baik. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2009 pukul 16.00 Wib

Fakhruddin dalam http//kahmuiuin.blogspot.com. Makna Kesabaran. Diakses pada tanggal 04 Juni 2009 pukul 19.00 Wib

Chyrill dalam http//mykmu.net. Makna Sabar. Diakses pada tanggal 05 Juni 2009 pukul 19.00 Wib

Haldi dalam http//haldi-kudo.blog.friendster.com. Sebuah Catatan Kecil Yusuf Alaihissalam. Diakses pada tanggal 02 November 2009 pukul 20.00 Wib

Ikhwanti dalam http//ikhwanti.wordpress.com. Macam-macam Sabar. Diakses pada tanggal 09 Juni 2009 pukul 19.30 Wib

Mufid dalam http://solopos.com. Orang Tewas Akibat Kecelakaan Kereta Api. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2009 pukul 20.00 Wib

Purwono dalam http://adab.uin-suka.ac.id.  Studi Kepustakaan. Diakses pada tanggal 29 Nopember 2009 pukul 08.00 Wib

Putra Purnama dalam http//putrapurnama.wordpress.com. Arti Sabar. Diakses pada tanggal 05 Juni 2009 pukul 19.00 Wib

Republika Newsroom dalam http//republika.co.id. Sabar itu Indah. Diakses pada tanggal 01 Juli 2009 pukul 09.00 Wib

Rahmat Sholihin dalam http//shalihin.blogspot.com. Ibroh Dalm Kisah Nabi Yusuf As, Sebuah Upaya Memahami Kisah Qur’ani. Diakses pada tanggal 02 Juli 2009 pukul 09.00 Wib

Senja dalam http//mymasjid.com. Tajuk Sabar itu Indah. Diakses pada tanggal 10 Juli 2009 pukul 13.00 Wib

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: